I. Al-qur’an

Dalil-dalil umum tentang syahadat laa ilaha illallah
Allah
menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan dia (yang berhak
disembah), yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang
berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada Tuhan melainkan dia
(yang berhak disembah), yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.( Qs:
Ali-Imran ayat 18 )
Penjelasan ayat :
{ شهد ا لله انه
لااله الا الله} الآية فَإِنَّهُ يُجَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيَقُولُ
اللهُ تَعَالَى : عَبْدِي عَهْدٌ اِلَيَ عَهْدًا وَاَنَا أَحَقَّ مَنْ
وَفَّى ، أَدْخَلُوْا عَبْدِي اَلْجَنَةَ ،
Muhammad Ali ash-Shabuni menjelaskan dalam kitab
Sofwah at-Tafasir
bahwa ” Syahidallahu annahu laa ilaha illa ana. Bahwa ayat ini
menjelaskan,sesungguhnya orang yang menyatakan ( syahadat tauhid ) maka
didatangkan pada hari kiamat.lalu Allah Azza wa jalla berfirman: “
Hamba-Ku telah berjanji kepada-Ku ,dan Aku adalah yang paling berhak
menepati janji,masukanlah hamba-Ku ke syurga,”
Syahadat
yang dimaksud dalam ayat diatas menurut ulama tafsir ialah sebuah
perjanjian yang sifatnya mengikat antara Allah dan hamba-Nya
Dan
kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan kami
wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan
aku, Maka sembahlah olehmu sekalian akan aku”.( Qs: Al-anbiyaa’ ayat 25 )
Sesungguhnya
mereka dahulu apabila dikatakan kepada mereka: "Laa ilaaha illallah"
(Tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah) mereka menyombongkan
diri,( Qs : Ash-shaffat ayat 35)
II. Hadits
Dalil-dalil umum tentang syahadat
1) Hadits tentang rukun islam
عَنْ
أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَابِ رضي
الله عنهما قال: سَمِعْتُ رسولَ ا لله صلى الله عليه وسلم: بُنِيَ ا ْلإِ
سْلاَ مُ عَلَى خَمْسٍ شَهَا دَ ةِ اَ نْ لاَ اِ لَهَ اِ لاَّ ا لله وَ اَ
نَ مُحَمَّدً ا ا لرَّ سُو لُ ا للهِ وَ اِ قَا مِ ا لصَّلاَ ةِ وَ اِ
يْتَاءِ ا لزَّ كَا ةِ وَ حِجِِّ ا لْبَيْتِ وَ صَوْ مِ رَ مَضَا نَ ( رواه
البخارى و مسلم)
Dari Abi Abdi
ar-Rahman bin Ibnu Umar Ibni Khattab Ra. Berkata : “ Aku telah
mendengar bahwa Rasulullah Saw pernah berkata “ (( Islam dibanun di atas
lima perkara yaitu mengucapkan syahadat tidak ilah selain Allah dan
bahwasanya Muhammad Rasulullah serta mendirikan shalat menunaikan zakat
shaum di bulan ramadhan dan menuaniakan haji ke Baitullah.)) “
2) Hadits tentang akhir hayat Abu Thalib Paman Nabi Muhammad Saw
عَنْ
إِبْن المسيب عَنْ أَبِيْهِ قَالَ: لَمَّا حَضَرَتْ أَبَا طَالِبِ
الْوَفَاةُ, جَاءَهُ رَسُوْلُ اللهِ ص.م, وَعِنْدَهُ عَبْدُالله بنُ
أُُمَيَّةَ وَأَبُوْ جَهْلٍ, فَقَالَ لَهُ: يَا عَمِّ ! قُلْ لاَ إله إلاّ
الله،كلمة أشهد لك به عند الله )). فَقاَلَ أبو جهل عَبْدُ الله بنُ
أُُمَيَّةَ :يَا أَبَا طَالِبٍ؟! أَتَرْغَبُ عَنْ مِلَّةِ عَبْدِ
الْمُطَلِب؟!فَلَمْ يَزَلْ رسول الله صلى الله عليه وسلم يَعْرِضُهَا
عَلَيْهِ وَيُعِيْدُ لَهُ تِلْكَ الْمَقَالَةَ،حَتىَّ قَالَ اَبُوْ
طَالِِبٍ آَخَرَ مَا كَلَّمَهُمْ: هُوَ عَلَى مِلِّةِ عَبْدِ الْمُطَالِبِ،
وَأَبَى أَنْ يَقُوْلَ: لاإله إلاّ الله. فَقَالَ النَّبِى ص.م:
"لأَسْتَغْفِرَنَّ لَكَ مَالَمْ أَنْهَ عَنْكَ" فَأَنْزَلَ الله عَزَ
وَجَل{, مَاكَانَ لِلنَّبِى وَالَّذِيْنَ آمَنُوا أنْ يَسْتَغْفِرُوا
لِلْمُشْرِكِين} وَأَنْزَلَ الله فِى اَبِى طَالِب {إنَّكَ لاَ تَهْدِى مَن
أحببت وَلَكِن الله يَهْدِى مَن ْيَشَا}
“
Dari Sa’id bin al-Musayyab Ra., dari Ayahnya Ra.,ia berkata tatkala Abu
Thalib menjelang ajal: Rasulullah Saw mendatangi Abu Thalib lalu beliau
dapati Abu Jahal dan Abdullah bin Abu Ummayah bin al-Mughirah di sisi
Abu Thalib,kemudian Rasulullah Saw.mengatakan,” Wahai Paman! Ucapkanlah
Laa Ilaha Illallah,sebuah
kalimat yang akan kupersaksikan untukmu di sisi Allah.” Maka Abu Jahal
dan Abdullah bin Abu Ummayah mengatakan,” Hai Abu Thalib! Apakah kamu
membenci agama Abdul Muthalib?” kemudian Rasul Saw menyodorkan kembali
kalimat syahadat Laa Ilaha Illallah kepada Abu Thalib dengan
mengulang-ulangnya sehingga Abu Thalib tetap berpaling dari kalimat
tersebut, dan dia ( Muhammad ) kembali kepada Abu Thalib dengan
perkataan tadi.sampai Abu Thalib mengatakan sesuatu di akhir kepada
mereka” Dia ( Muhammad ) adalah menganut agama Abdul Muthalib ,Lalu Abu
Thalib enggan mengucapakan laa ilaha illallah,lalu Rasul Saw mengatakan “
Demi Allah,aku akan memintakan ampun untukmu selama tidak dilarang,maka
Allah Azza wa Jalla menurunkan ayat di dalam surat At-taubah ayat 113
dan surat Al-qoshosh ayat 56 )
3) Hadist tentang di utusnya Duta dakwah Muadz bin Jabal ke Yaman
وَعَنْ
ابْنِ عَبَّاسِ رضي الله عنهما ان رسول الله صلى الله عليه وسلم لما بعث
معاذا إلى اليمن قال " إِنَّكَ تَأتِي قَوْمًا مِنْ اَهْلِ الْكِتَابِ
فَلْيَكُنْ أَوَّلُ مَا تَدْعُوهُمْ إِلَيْهِ شَهَادَةُ اَنْ لاَ اِلَهَ
اِلاَّاللهُ،" وَفِى رِوَايَةٍ إِلَى أَنْ يُوَحَّدُوااللهً – فًإٍنْ هُمْ
أَطَاعُوكَ لِذَلِكَ فَأَعْلِمْهُمْ اَنَّ اللهَ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ
خَمْسَ صَلَوَاتِ فِى كُلِّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ،فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوكَ
لِذَلِكَ فَأَعْلِمْهُمْ اَنَّ اللهَ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ صَدَقَةٍ
تُؤْخَذُ مِنْ أَغْنِيَا عِهِمْ فَتُرَدُّ عَلَى فُقَرَاعِهِمْ ...
( H.r Bukhari & Muslim dalam kitab terjemah Fathul Majid Bab: Dakwah kepada Syahadat Laa Ilaha Illallah ) hal.155
Pendapat Imam An-nawawi
: ” فًإٍنْ هُمْ أَطَاعُوكَ لِذَلِكَ فَأَعْلِمْهُمْ اَنَّ اللهَ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ خَمْسَ صَلَوَاتِ فِى كُلِّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ
قَالَ
اَ لنَّوَوِي مَامَعْنَاهُ : أَنَّهُ يَدُلُّ عَلَى اَنَّ الْمُطَا لَبَةَ
بِالْفَرَائِضِ فِى الدُّنْيَا لاَ تَكُونُ إِلاَّ بَعْدَ ا ْلإِسْلاَمِ
Imam
An-Nawawi Rh. Dalam mengomentari hadits muadz bin Jabal di atas
mengatakan : ” Hadits ini menunjukkan bahwa menjalankan kewajiban di
dunia tidak akan berlaku kecuali setelah Islam”
4) Hadits tentang memerangi manusia untuk mengucapkan kalimat syahadat
اُمِرْتُ
أَنْ اُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَقُولُوا : لاَ اِلَهَ اِلاَّ ا للهُ
فَإِذَا قَالُوْا هَا عَصَمُوْا دِمَاعَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ اِلاَّ
بِحَقِّهَا
...
“
Aku diperintah untuk memerangi manusia sampai mereka mengatakan kalimat
Laa ilaha illallah,maka jika mereka telah mengucapkannya terlindungilah
darah mereka dan harta mereka kecuali dengan haknya…”
III. Aqwal ‘ulama ( Perkataan ulama Tauhid ) Tentang syahadat
1) At-Tajus As-Subki dalam kitab Irsyadul Ibadnya
mengatakan dalam bab Iman : “ Bahwa tidak dipandang syah amalan
anggota tubuh ( berupa shalat, haji, zakat dll ) jika tidak disertai
iman dalam hati, dan tidak dipandang sah iman dalam hati jika tidak
disertai “ucapan dengan lisan “ dua kalimah syahadat secara nyata . “
2) Dalam
Kitab Al-Hushunul Hamidiyah
mengatakan : “ Bahwa mengucapkan/ mengikrarkan dua kalimat
syahadat”dengan lisan” adalah syarat bagi seseorang untuk diberlakukan
hukum – hukum Islam atasnya. “ ( Di Kutip dalam buku Al-Islam Jilid
I,Karya Tgk Hasbi Ash-shiddiqy )
3)
Imam Muhammad Bin Abdul Wahab Rh;
“ Kalimat Laa ilaaha illallah tidak akan bermanfaat bagi orang yang
mengucapkan, jika tidak memahami makna kandungan, tuntunannya, dan
syarat syahnya. ( Dalam Kitab Fathul Majid )
4)
Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab Rh. Mengatakan dalam
Kitab “ Ad-Durar “
وَ
مُجَرَ دُ بِلَفْظِ ا لشَهَا دَ ةِ مِنْ غَيْرِ عِلْمٍ بِمَعْنَا هَا وَ
لاَ عَمَلَ بِمَقْتَضَا هَا لاَ يَكُو نُ ا لْمُكَلَفُ مُسْلِمًا.وَ مَنْ
شَهِدَ اَ نْ لاَ اِ لَهَ اِ لاَ ا للهُ وَ عَبَدَ غَيْرَ هُ مَعَهُ فَلاَ
شَهَا دَ ةَ لَهُ وَ إِ نْ صَلَى وَ زَ كَى وَ صَا مَ وَ آ تىِ بِشَيْئٍ
مِنَ اَ عْمَا لِ اْ لاِ سْلاَ مِ
“ Sekedar mengucapkan lafazh
syahadat tanpa mengetahui maknanya dan tanpa mengamalkan tuntunannya,
maka itu tidak membuat seseorang menjadi muslim, maka siapa yang
bersaksi, mengucapkan dua kalimat syahadat Tidak ada Ilah selain Allah
yang berhaq disembah, sedang dia masih beribadah kepada selain Allah
(melakukakan kesyirikan) maka syahadatnya tidak dianggap meskipun dia
shalat, zakat, shaum dan melaksanakan sebagian ajaran Islam.
إِ
نَ ا لنَطَقَ بِهَا مِنْ غَيْرِ مَعْرِ فَةِ مَعْنَا هَا وَ لاَ عَمَلَ
بِمْقَتَضَا هَا مِنَ َاْ لتَِزَ ا مِ ا لتَوْ حِيْدِ وَ تَرَ كَ ا لشِرْ
كِ وَ اْ لكُفْرَ بِا لطَا غُو تِ فَإِ نَ ذَ لِكَ غَيْرُ نَا فِعٍ باِ
ْلاِ جْمَاعِ
Sesungguhnya mengucapkan kalimat Laa Ilaha Illallaah
tanpa disertai pengetahuan ( ilmu ) akan maknanya dan tidak mengamalkan
tuntunannya berupa komitmen dengan tauhid dan meninggalkan syirik serta
mengkufuri thagut maka sesungguhnya pengucapan itu tidak bermanfaat
berdasar ijma para Ulama’ “
Dari perkataan ulama dapat diambilhukum bahwa “
Syahadat “ adalah syarat sah diterimnya amal, dan sebagai syarat sah keislaman secara syar’i
Kewajiban Menegakkan Syahadat dengan mengikrarkan secara zhahir
Perkataan Syaikh Muhammad al-Sanusi,tentang wajibnya ikrar syahadat bagi Muslim Kauni atau Muslim Keturunan
فاَعْلَمْ
اَنَّ النَّاسَ عَلَى ضَرْبِيْنَ مُؤْمِنُ وَكاَفِرٌ أَمَّا الْمُؤْمِنُ
بِاْلأَصَالَةِ فَيَجِيْبُ عَلَيْهِ اَنْ يُذْكَرَهَا فِى الْعُمُرِ
مَرَّةً وَاحِدَةً يُنْوِى فِى تِلْكَ الْمَرَةِ بُذْكَرَهَا الْوُجُبُ وَ
إِنْ تَرَكَ ذَلِكَ فَهُوَ عَاصٍ.
“ Ketahuilah,bahwa manusia
terbagi menjadi 2 golongan mu’min dan Kafir,adapun mu’min ( yang
berstatus keturunan ), maka wajib mengucapkan dua kalimat syahadat
sekali seumur hidupnya yang diniatkan untuk menjalankan kewajiban
syariat lainnya,dan jika ia menolak ( enggan bersyahadat ), maka dia
telah bermaksiat. [Dikutip dalam buku menegakkan syariat
syahadat,penulis oleh Umar Zia ul Haq,dalam kata pengantar]
Menurut Syaikh Muhammad Abdul Wahab Rh.bahwa keislaman terbagi menjadi dua yaitu : islam kauni dan islam syar’I, adapun islam
kauni islam yang berdiri atas dasar pijakan lingkungan dan keadaan dari
orang tua,sebagaimana islamnya alam dan makhluk hidup yang lainnya
secara fitrah penciptaan,sedangkan islam syar’I ialah keislaman yang
berpijak atas dasar tuntunan syariat yang berdasar petunjuk ajaran
Al-qur’an
Ø Pendapat Ibnu Taimiyah Rh.
قال
شيخ الإسلام إبن تيمية : وَقَدْ عُلِمَ بِاْلاِضْطِرَارِ مِنْ دِيْنِ
الرَّسُولِ صلى الله عليه وسلم وَاِتَِّفَقَتْ عَلَيْهِ اْلأُمّةُ أَنَّ
أَصْلَ اْلإِسْلاَمِ وَأَوَّلَ مَا يُؤْمَرُ بِهِ الْخَلْقَ : شَهَادَةُ
أَنَ لا إله إلا الله وأن محمدا رسول الله فَبِذَلِكَ يَصِيْرُ الْكَافِرُ
مُسْلِمًا وَالْعَدُوُّ وَلِيًا وَالْمُبَاحُ دَمَهُ وَمَالَهُ : مَعْصُومُ
الدَّمَ وَالْمَالَ ثُمَّ إِنْ كَانَ ذَلِكَ مِنْ قَلْبِهِ فَقَدْ دَخَلَ
فِى اْلإِيْمَانِ وَإِنْ قَالَهُ بِلِّسَانِهِ دُوْنَ قَلْبِهِ فَهُوَ فِى
ظَاهِرٍ اْلإِسْلاَمِ دُوْن بَاطِنٍ اْلإِيْمَانِ قَالَ : وَأَمَّا إِذَا
لَمْ يَتَكلّمُ بِهَا مَعَ الْقُدْرَةِ فَهُوَ كَافِرٌُ بِاتِّفَاقِ
الْمُسْلِمِيْنَ بَاطِنًا وَظَاهِرًا عِنْدَ سَلَفِ اْلأُمَّةِ
وَأَئَمِّتِهَا وَجَمَاهِيْرِ الْعُلَمَاءِ
Telah diketahui dengan
pasti dari dinurrosul dan sepakat seluruh ummat (shahabat ) bahwa dasar
islam dan yang pperintah pertama kepada manusia adalah syahadat
شهادة أن لا إله إلا الله وأن محمدا رسول الله karenanya dengan syahadat
yang kafir jadi muslim, musuh jadi pelindung, orang yang halal darah dan
hartanya menjadi terlindungi darah dan hartanya. Kemudian jika hal itu
keluar dari hatinya, maka ia sungguuh telah beriman.jika mengucapkannya
dengan lisan tanpa hati,maka ia menampakan keislaman tanpa ada iman
dalam hati ( ia Munafiq), Dia berkata ( Ibnu Taimiyah ),” dan jika tidak
mengucapkannya padahal ia mampu, maka ia adalah kafir lahir bathin
menurut kesepakatn kaum muslimin, pendahulu umat, imam mereka dan
meyorita ( Lihat Fathul majid hal 78 )
IV. Istinbath Hukum
Pengambilan Hukum Tentang syariat syahadat
Dalam
Qaidah Ushul Fiqih ada ketetapan hukum terhadap dalil naqli ( nash
al-qur’an dan hadits ) dikatakan oleh ulama ushuliyin : “ Bahwa wajib
mengamalkan nash ayat Qur’an dan hadits Nabi berdasarkan keumuman &
kemuthlaqannya selama tidak ada dalil yang mengkhususkan dan
mengikatnya,wajib mengamalkan nash ayat dan hadits sesuai dengan yang
ditunjukkannya selama tidak ada dalil yang menyelisihinya.,jika terdapat
dalil umum yang muncul karena sebab khusus,maka yang disepakati ulama
ushul ialah wajib mendahulukan keumumannya.sebagaimana Qaidah ushul yang
berbunyi :
اَلْعِبْرَةُ بِعُمُومِ الَّفْظِ لاَ بِخُصُوصِ السَّبَابِ
“ Hukum yang diambil dalam Qur’an adalah berdasarkan keumuman lafazh bukan kekhususan sebab.
Sedangkan dalam istilah ushul penyebutan tentang lafazh umum disebut ‘Am.adapun maknanya menurut ushul fiqih ialah
الَلفْظُ اَلْمُسْتَغْرِقُ لِجَمِيْعِ أَفِرَادِهِ بِلاَ حَصْرٍ
“Lafal yang mencakup semua jenis ( seluruh makhluk ) tanpa ada batasan yang mengikat”
V. Hakikat Syahadat Secara Syar’i
A. Pengertian Syahadat
شهد- يشهد – شها د ة – مشا هد ة ج شهود
Makna Syahadat yang dimaklumi oleh ulama Tauhid ialah bermakna : Persumpahan atau Persaksian ( Bersumpah atau bersaksi )
الشهادة : الإقرار و البيان
Pengakuan & Penjelasan
( Muhammad Ali as-Shabuni,Shofwatu at-Tafasir.Hal.173,)
Makna Syahadat secara syar’i
·
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz mengatakan makna Syahadat
لا اله ا لاا لله
SYAHADAT
ialah : Pengakuan, Pembenaran,dan keyakinan bahwa Tidak ada yang berhak
disembah kecuali Allah Swt tiada sekutu bagi-Nya. Jadi makna secara
menyeluruh ialah “ Keyakinan dan Pengakuan bahwa tidak ada yang berhak
diabdi kecuali Allah lalu berkomitmen dengannya dan mengamalkan
tuntunannya dan tidak mempersekutukan-Nya.i nilah Hakikat Laa ilaha
Illallah.
شَهَا دَ ةُ اَ نْ لاَ اِ لَهَ اِ لاَّ ا للهُ اَ
عْتَقِدُ اَ نَّ ا للهَ وَا حِدٌ لاَ شَرِ يْكَ لَهُ فِى عِبَا دَ تِهِ وَ
لاَ فىِ مُلْكِهِ
“Syahadat Dengan mengucapkan Laa ilaha Illallah
ialah mengakui bahwa Alloh adalah esa & tidak ada sekutu bagi-Nya
dalam ibadah & pemerintahan-NYA “
Kandungan makna
syahadat menurut penjelasan di atas.b ahwa nilai dasar SYAHADAT yang
syar’i ialah yang menuntut pembersihan aqidah dari syirik Uluhiyah dan
syirik Mulkiyah. jika tidak terpenuhi dua aspek ini atau salah
satunya saja, maka dianggap masih berstatus MUSYRIK, Sebaliknya seorang
dikatakan MUWAHID jika mentauhidkan Allah pada aspek Uluhiyah dan aspek
Mulkiyah
VI. Rumusan syahadat menurut para ‘Ulama Tauhid
Sesungguhnya
mengucapkan kalimat Laa Ilaha Illallaah tanpa disertai pengetahuan (
ilmu ) akan maknanya dan tidak mengamalkan tuntunannya berupa komitmen
dengan tauhid dan meninggalkan syirik serta mengkufuri thagut maka
sesungguhnya pengucapan itu tidak bermanfaat berdasar ijma para Ulama’ “
Syahadat
yang dituntut menurut syar’I ialah syahadat tidak sekedar syahadat
untuk ritual ibadah yang dilakukan umumnya kaum awwam .seperti : ritual
sholat,
ritual kendurian,
ritual nikah, dll. Ritual amalan syahadat tersebut tidak membawa
manfaat terhadap amal dan keislaman, sungguhpun dengan lafazh yang sama
dan untuk perkara yang baik, namun para memberikan penegasan tentang
nilai syahadat yang syar’I wajib dilandasi pemahaman yang benar serta
tuntunan yang benar.
Berikut tuntunan syahadat secara syar’i
شُرُوطُ قَبُولِ الشَّهَادَتيَْنِ
Syarat diterimanya syahadat
1. Bil ilmi ( dengan Pengetahuan ) Qs :47/19
2. Bil Ikhlas ( dengan ketauhidan yang hanif ) Qs : 22/31
3. Bil Yakin ( dengan Keyakinan hati ) Qs : 15/99
4. Bil Sidqi ( dengan kebenaran ucapan & amal ) Qs :61/7
5. Bil Qabul ( dengan penerimaan hukum-2nya ) Qs:33/36
6. Bil Mahabbah ( dengan penuh kecintaan ) Qs : 3/31
7. Bil Inqiyadi ( dengan kethataan ) Qs : 4/60
( Kitab Fathul Majid )
Syarat sah sempurnanya syahadat Laa ilaha illallah
1. Bil lisan
( dizahirkan dengan ucapan lisan ) : إقرار بالسان ( Lihat penjelasan
& komentar para Ulama tentang kewajiban melafazhkan syahadat dengan
ikrar lisan )
2. Bil Jamaah ( bergabung dengan Jamatul Muslimin sebagai Daulah penegak perjuangan syahadat ),sebagaimana dalil hadits Rasul
لاَ
يَحِـلُّ دَ مٌ إِ مْرِئٍ مُسْلِمٍ يَشْهَدُ اَ نْ لاَ اِ لَهَ اِ لاََّ ا
للهِ وَ اَ نِِّـيْ رَ سُو لُ ا للهِ اِ لاَ بِإِ حْدَ ئِ ثَلاَ ثٍ....ا
لتَّا رْ كُ لِلدِِّ يْنِهِ وَ ا لْمُفَا رِ قُ لِلْجَمَا عَةِ...
“
Tidak halal ( haram ) bagi seseorang muslim darah & hartanya yang
telah mengucapkan dua kalimat syahadat kecuali dengan 3 perkara…..
diantaranya ( salah satunya ) yaitu meninggalkan dinnya (keyakinan )
& keluar dari jamaah.” ( H.R Muslim )
Hadits Rasul
tersebut mengandung nilai hukum, bahwa seorang Muslim akan sempurna
nilai kemuslimannya manakala berkomitmen bergabung dengan jamaah.
Rusaknya nilai syahadat seorang muslim , jika keluar dari keyakinan yang
dianutnya dan keluar dari jamaah yang diperjuangkannya.
3. Bil Syuhada
( Menghadirkan seorang saksi ), yang dimaksud saksi disini dalam
konteks bersyahadat ialah sebagaimana yang dijelaskan dalam tafsir
Al-Qurthubi Asy-syahid الشاهدialah yang mengetahui sesuatu dan
menjelaskannya dalam hal ini tentang keesaan Allah. Adapun yang dimaksud
syahid disini ialah Ulul ilmi ( orang yang mengetahui akan kebenaran
syahadat laa ilaha illallah yakni , para nabi dan Orang-orang beriman
yang bertauhid ) dengan kata lain: tidak mungkin dituntunt hadirnya
seorang saksi dalam syahadat kalau bukan orang yang memang memahami dan
juga mengamalkan tuntunannya.
http://iqraku.blogspot.com
4. Bil Amali bimaqtadoha (
Mengamalkan tuntunannya ) yaitu berupa komitmen dengan Tauhid dan
meninggalkan kesyrikan serta mengkufuri Thagut. sebagaimana penjelasan
dalam Al-qur’an Surat Al-baqarah ayat 256:
...Karena
itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah,
maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat
yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.
Rukun-Rukun Syahadat
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, mengatakan bahwa ulama sepakat menentukan bahwa rukun Laa ilaha Illallah , ada dua:
1. Menafikan ( meniadakan ) :
Laa ilaaha ( Tidak ada ilah – yang berhak disembah )maksudnya
membatalkan atau menggugurkan segala kesyirikan dalam semua bentuknya
dan mewajibkan untuk mengingkari semua yang disembah selain Allah yang
dinamakan THAGUT ( Lihat makna Thagut dan jenis-jenisnya dalam kitab
Majmu Atut-Tauhid tentang risalah makna Thagut )
2. Menetapkan , Illallah ( Kecuali Hanya Allah saja ) maksudnya hanya Allah saja satu-satunya Abdian Al-ma’bud yang berhak penuh untuk diibadahi dan dithaati
Pengertian rukun ini tertuang dalam Al-qur’an
“
Maka Barangsiapa yang Ingkar atau Kafir pada Thagut – bermakna rukun
pertama ( menafikan ) “ Dan hanya beriman kepada Allah saja – bermakna
rukun kedua ( menetapkan )
B. Kandungan Syahadat ( Madlulul Syahadah ):
a.
Iqrar = Ikrar yang berisi pernyataan atau proklamasi berupa
pembebasan diri dari ikatan jahili kepada ikatan islami. Qs:3/18,81
b. Al-Qasam = Ikrar yang mengandung sumpah,dengan mengakui kebenaran tauhid dan menjalankan tuntunannya,Qs:63: 1-2
c. Al-Mitsaq = Ikrar yang mengandung perjanjian,yaitu mengikhlaskan beribadah kepada Allah dengan tidak mensekutukan-Nya.Qs:5:7
C. Keutamaan Syahadat ( Fadhoilusy-Syahadah )
a. Madkhalu ila islam اَلْمَدْخَلُ إِلَى إِلإْسَلاَمِ

Pintu Masuk Islam
Syaikh Muhammad Abdul Wahab Rh Mengatakan :
فأول أركان إ لإسلام : شهادة ان لا اله الا الله وبها يدخل العبد فى إلإسلام
“ Maka rukun Islam yang pertama yaitu syahadat Laa ilaha Illallah dimana dengan syahadat seorang hamba masuk ke dalam islam “
b. Khalashatu Ta’alimil Islam خَلاَصَةُ تَعَالِيْمِ اْلإِسْلاَمِ
Intisari (Ajaran Pokok ) Islam
Sebagaimana Hadits Muadz bin Jabal yang mengajarkan syahadat terlebih dahulu kepada setiap obyak dakwah ( Lihat dalil di atas )
c. Asasul Inqilab أَسَاسُ اْلإِنْقِلاَبِ
Nilai dasar Perubahan/Reformasi Qs: 6 : 122
Nilai
dasar perubahan seseorang dikatakan sebagai hamba Allah,orang
merdeka,dan sebagai warga Allah,manakala ia mengakui dan mengikrarkan
dua kalimat syahadat dan menjalankan tuntunan kalimat tersebut ( Sayyid
Quthb, Petunjuk Jalan,Bab : Aqidah & kewarganegaraan )
d. Haqiqatu Da’wah ar-Rusul حَقِيْقَةُ دَعْوَةِ الرُّسُلِ
Hakikat Dakwah Para Rasul, Qs : 21: 25
e. Fadhailu ‘Adzimah فَضَائِلُ عَظِيْمَةُ
Keutamaan yang Agung
Diantara keutamaan agung Syahadat ialah :
· Memasukan hamba ke dalam syurga,sebagaimana hadits Rasul
مَنْ قَالَ لاَ اِلَهَ اِلاَ ا للهُ وَهُوَ يَعْلَمُ دَخَلَ الْجَنَةَ
“
Barangsiapa yang mengucapkan laa ilaha illallah sedangkan ia mengetahui
( ilmu & Tuntunannya ) niscaya masuk syurga “ (H.r Muslim )
·
Menghapus dosa-dosa besar ( Lihat dalam terjamah kitab Fathul Majid Bab
: keutamaan kalimat tauhid dan bagi siapa yang mengamalkannya )
· Memberikan syafaat ( Qs : 43 : 86 )
· Sebagai nilai dasar hidayah seorang ( Qs : 6:82)
Realisasi Syahadat ( Tahqiqu Syahadatain )
Aplikasi amalan Syahadatain dalam konteks Kekinian
Perwujudan Amaliyah syahadat Laa iIaaha Illallah
1. I’tisham bil Jamaah ( Bergabung dan komitmen dengan Jamaah ) Qs : Ali –imran ayat 103
Dan
berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah
kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu
dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, Maka Allah mempersatukan
hatimu, lalu menjadilah kamu Karena nikmat Allah, orang-orang yang
bersaudara; dan kamu Telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah
menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan
ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.
لاَ
يَحِـلُّ دَ مٌ إِ مْرِئٍ مُسْلِمٍ يَشْهَدُ اَ نْ لاَ اِ لَهَ اِ لاََّ ا
للهِ وَ اَ نِِّـيْ رَ سُو لُ ا للهِ اِ لاَ بِإِ حْدَ ئِ ثَلاَ ثٍ....ا
لتَّا رْ كُ لِلدِِّ يْنِهِ وَ ا لْمُفَا رِ قُ لِلْجَمَا عَةِ...
“
Tidak halal ( haram ) bagi seseorang muslim darah & hartanya yang
telah mengucapkan dua kalimat syahadat kecuali dengan 3 perkara…..
diantaranya ( salah satunya ) yaitu meninggalkan dinnya (keyakinan )
& keluar dari jamaah.” ( H.R Muslim )
Keharaman darah
seorang muslim bukan hanya pengakuan dengan mengucapkan dua kalimat
syahadat, akan tetapi juga diiringi dengan berpegang teguh dengan
Al-jamaah.jika seorang muslim melepaskan tali ikatan jamaahnya ,maka
berarti sama dengan melepaskan tali ikatan islam dalam dirinya,jika
islam tidak ada dalam dirinya,maka yang Nampak adalah kekufuran
َعلَيْكُمْ بِا لْجَمَا عَةِ وَ اِ بَّا كُمْ وَ ا لْفُرْ قَةَ
“ Wajib atas kalian berjamaah dan jauhilah berpecah belah” . ( H.R Ahmad , dalam kitab musnad Ahmad , Shohih Turmidzi )
وَ
اَ نَا اَ مَرَ كُمْ بِخَمْسٍ كَمَا اَمَرَ نِيَ ا للهُ بِهِنَّ : اَ
لْجَمَا عَةُ وَ ا لسَّمْعِ وَ الطَّا عَةُ وَ ا لْهِجْرَ ةُ وَ ا لْجِهَا
دُ فِى سَبِيْلِ ا للهِ فَمَنْ فَا رَ قَ ا لْجَمَا عَةَ قَيْدَ شِبْرٍ
فَقَدْ خَلَعَ رِ بْقَةَ ا ْلاِ سْلاَ مِ مِنْ عُنُقِهِ إِ لاَّ اَن يُرَ ا
جِعَ …
“ Dan aku perintahkan
kepada kalian terhadap lima perkara sebagaimana aku diperintahkan Allah
dengannya yaitu : Berjamaah, Mendengar , thaat, dan berjihad dijalan
Allah.maka barangsiapa keluar dari jamaah ( keluar kethaatan ) walau
hanya sejengkal,maka telah lepas ikatan islam dari lehernya ( murtad ),
kecuali ia taubat ( kembali bejamaah )... “ ( H.R Ahmad dalam kitab
Jamius Shogir )
2. Al-Harakah wal Jihad, Adanya komitmen Perjuangan dan jihad dalam rangka membela ketauhidan Qs : 9 :19-20,Qs 4:94
3.
Imarah wa ad-Daulah , Memiliki kepemimpinan dan Negara yang merupakan
washilah dan wadah dalam pengabdiannya kepada Allah berupa Ulil
Amri(pemimpin )dan Negara Islam,Qs : 4:59
4. Al-wala wal Bara,
Memiliki prinsip Loyalitas ( kesetian,dukungan penuh) kepada Waliyullah
dan Bara ( melepaskan, Menghilangkan ) ikatan-ikatan kepada Waliyu
Thagut Qs : 4/76
5. Iqamah ad-Din, Menegakkan & memperjuangkan Din sebagai sebagai misi perjuangan suci,Qs 8:39
Kesimpulan hukum yang diambil :
·
Syariat syahadat secara nash hukumnya wajib ditegakan berdasarkan
keumuman nash yang ditunjuk ( baik Nash Al-qur’an ,Hadits maupun Aqwal
Ulama )
· Syariat syahadat berlaku umum bagi setiap
manusia untuk ducapkan lebih utama bagi muslim kauni atau
keturunan,karena tidak ada dalil khusus yang muthlaq mengatakan bahwa
syahadat hanya berlaku buat orang kafir ( nashrani ,yahudi,budha,hindu
), maka selama tidak ada dalil yang mengkhususkan maka wajib mengamalkan
keumumamnya.
· Syariat syahadat yang dimaksud untuk
ditegakkan bagi setiap muslim ialah adalah syahadat syar’i yang
dilandasi pengetahuan, berupa syarat , rukun serta tuntunannya
berdasarkan aqwal ulama
· Mengikrarkan syahadat tauhid (
pengakuan tentang keesaan Allah ) adalah awal menjalankan kewajiban
fardhu dari fardhu-fardhu yang lain bagi seorang muslim
·
Syahadat tidak akan sempurna jika tidak diiringi dengan komitmen
meninggalkan dan mengkufuri thagut serta bergabung & menegakkan
al-Jamaah, ( jamatul Muslimin berbentuk Daulah Islamiyah ) QS: 8:72
·
Meninggalkan Al-jamaah, atau berpisah dari sebuah Jamaah
Ad-Daulah,dapat menggugurkan atau merusak nilai syahadat,sekaligus
menghilangkan penjagaan harta & darah
· Hubungan jamaah dan
syahadat dalam satu variable Islam sebagai wujud tuntunan syahadat
dengan memurnikan Allah dalam ibadah dan Pemerintahan-Nya.
·
Kehadiran Al-jamaah adalah sebagai Syuhada ‘ala an-Nas ( sebagai saksi
seluruh manusia ) dalam rangka menegakkan yakfur bit thagut wa yu’mim
billah.
Wallahu ‘Alam Bish-Showwab►►
Daftar Pustaka
§ Syaikh Muhammad Abdul Wahab,Terjemah Kitab Fathul Majid
§ Syaikh Shalih Utsaimin, Terjemah Ushul Fiqih
§ DR.Musthafa Dieb al-Bugha Muhyidin Mitsu,Al-Wafi’- Syarah Kitab Arbain an-Nawawi
§ Muhammad Abdul Wahab,Syarah Kitab Salasah Usul
§ Sayyid Quthb, Petunjuk Jalan
§ Tajus Subki, Irsyadul ‘Ibad
§ Tgk Muhammad Hasbi as-shiddiqy, Al-Islam Jilid 1
§ Muhammad Ali ash-Shabuni, Shofwah at-Tafasir,Darul Fikr: Beirut,Juz 1
§ Al-Qurthubi, Tafsir Al-qurthubi
§ Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, Durusul Muhimmah Li Ammatil Ummah
§ Syaikh Umar Abdul Jabbar Mabadhiu al-Fiqhiyyah ‘Ala Madzhab as-Syafi’I ,Juz 1,Tth,Surabaya-Indonesia
§ Materi Tarbiyah