BERBAKTI kepada keduanya merupakan perintah utama
ajaran Islam. Allah Ta’ala sampai mengulang-ulang perintah ini di dalam
Al-Qur’an setelah perintah mentauhidkan-Nya:
وَاعْبُدُواْ اللّهَ وَلاَ تُشْرِكُواْ بِهِ شَيْئاً وَبِالْوَالِدَيْنِ
إِحْسَاناً وَبِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ
ذِي الْقُرْبَى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالجَنبِ وَابْنِ
السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ إِنَّ اللّهَ لاَ يُحِبُّ مَن
كَانَ مُخْتَالاً فَخُوراً
“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapakmu.” (An-Nisa [4]: 36).
Pada ayat yang lain juga Allah Ta’alategaskan. “Dan Robbmu telah
memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah
kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya” (Al-Isra` [17]: 23).
Dari dua ayat di atas, kita dapat pahami bahwa birrul walidain
(berbakti kepada ibu dan bapak) adalah perkara utama. Berbakti kepada
kedua orangtua bisa diwujudkan dengan cara senantiasa mengasihi,
menyayangi, mendoakan, taat dan patuh, melakukan hal-hal yang
membahagiakan hati serta menjauhi hal-hal yang tidak disukai oleh
mereka. Inilah yang dimaksud dengan birrul walidain.
Karena berbakti kepada ibu dan bapak adalah perintah utama, maka
hukumnya jelas, berbaktinya seorang anak kepada Orangtuanya adalah hak
yang Allah berikan kepada ibu dan bapaknya. Jadi, manakala ada seorang
anak yang tidak berbakti kepada ibu bapaknya, maka baginyaadalah dosa
besar, meskipun alasan tidak berbaktinya itu karena dalam rangka taat
kepada Allah Ta’ala.
Suatu ketika datang seseorang lalu berkata kepada Rasulullah, “Ya
Rasulullah, saya ingin ikut berjihad, tapi saya tidak mampu!” Rasulullah
bertanya, “Apakah orangtuamu masih hidup?” Orang itu menjawab,“Ibu saya
masih hidup.”
Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallammenjelaskan: “Temuilah
Allah dengan berbakti kepada kedua orangtuamu (birrul walidain). Jika
engkau melakukannya, samalah dengan engkau berhaji, berumrah dan
berjihad.” (HR. Thabrani).
Dalam hadits lain disebutkan, “Bersimpuhlah kau di kakinya (orangtuamu), di sana terdapat surga.”
Boleh Tidak Taat Dalam Hal Kemusyrikan
Allah Ta’ala dan Rasul-Nya hanya membolehkan seorang anak tidak taat
kepada ibu bapaknya dalam hal kemusyrikan dan kemaksiatan. Tetapi
perintah berbakti kepada ibu bapak ini tetap berlaku sekalipun orangtua
dalam kondisi musyrik. Sekalipun Allah Ta’ala memberikan ketetapan bahwa
tidak wajib hukumnya taat kepada Orangtua dalam hal kemusyrikan.
Tetapi, berbakti kepada keduanya, tetap sebuah kewajiban yang tak bisa
ditawar-tawar.
وَإِن جَاهَدَاكَ عَلى أَن تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ
فَلَا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفاً وَاتَّبِعْ
سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَيَّ ثُمَّ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُم
بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ
“Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan-Ku dengan
sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu
menaati keduanya dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik.” (QS: Lukman [31]: 15).
Suatu riwayat menyebutkan bahwa ayat tersebut turun berkaitan dengan
peristiwa yang dialami seorang sahabat bernama Sa’ad bin Abi
Waqashradhiyallahu ‘anhu. Ketika Sa’ad masuk Islam, ibunya tidak setuju,
bahkan mengancam untuk tidak makan tidak minum hingga Sa’ad melepaskan
keimanannya. Ancaman itu ternyata benar-benar dilakukan oleh sang ibu,
hingga kesehatan ibunya menurun dan berada dalam kondisi kritis.
Pada saat kritis seperti itu, Saad bin Abi Waqash radhiyallahu
‘anhuberkata dengan lembut kepada ibunya, “Ketahuilah wahai Ibu, demi
Allah, seandainyaIbu mempunyai seratus nyawa dan nyawa itu keluar satu
persatu dari tubuh Ibu, niscaya aku tidak akan meninggalkan agama ini,
walau apa pun yang terjadi. Aku tidak akan peduli dengan segala ancaman
Ibu!”
Dengan demikian dapat dipahami secara keseluruhan bahwa berbakti
kepada ibu bapak adalah kewajiban utama seorang anak setelah menunaikan
kewajiban utamanya kepada Allah Ta’ala. Seorang anak hanya boleh tidak
taat kepada orangtua bila mereka mengajak kepada kemusyrikan dan
kemaksiatan. Namun berbakti dan berbuat ma’ruf kepada keduanya tetaplah
satu kewajiban.
Keutamaan Berbakti Kepada Orangtua
Bukhari dan Muslim meriwayatkan, Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu
‘anhupernahbertanya kepada Rasulullah tentang perbuatan apa yang paling
disenangi oleh Allah.
Beliau menjawab, “Berbakti kepada kedua ibu bapak.”
Lalu dia bertanya kembali, “Kemudian apalagi ya Rasulullah.”
Beliau menjawab, “Berjuang di jalan Allah.”
Artinya, siapa berbakti kepada Orangtuanya dengan sebaik-baiknya, maka jelas surga ada di hadapannya. Betapa tidak?
Lihatlah, hadits ini menunjukkan berbakti kepada orangtua lebih utama
nilainya daripada jihad fii sabilillah (berjihad/berperang di jalan
Allah). Sementara kita tahu, jihad fii sabilillahadalah jalan pintas
menuju surga-Nya. Maka tentu saja berbakti kepada orangtua akan mendapat
balasan surga yang lebih baik.
Perlu diketahui pula, kemuliaan untuk orang yang berbakti kepada
orangtuanya tidak hanya saja diberikan kelak di akhirat, namun juga
sudah ditampakkan sejak di dunia. Hal ini bisa dilihat dari kisah Uwais
Al-Qarni, seorang Muslim dari Yaman yang sangat taat dan berbakti kepada
ibunya.
Uwais belum pernah berjumpa dengan Rasulullah, namun karena begitu
berbaktinya dia kepada orangtuanya, sehingga Allah mencintai dia, dan
kecintaan kemuliaan Uwais sampai ke telinga Rasulullah. Tapi suatu saat
Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu bertutur bahwa Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Telah datang ke negeri ini
Uwais Al-Qarni, dari desa atau kabilah Murad dan Qaran. Semula ia
terkena penyakit belang, lalu sembuh. Ia sangat mencintai dan berbakti
kepada ibunya. Kalau bersumpah dan berdoa kepada Allah pasti dikabulkan.
Jika kalian mau, mohonlah kepadanya, agar ia memintakan ampun buat
kalian.” (HR. Muslim).
Bayangkan, sahabat sekelas Umar diberikan anjuran untuk memuliakan
seorang Uwais Al-Qarni. Seorang Muslim yang belum pernah beliau temui
dan belum pernah sekalipun turun ke medan jihad. Tetapi, inilah satu
bukti bahwa siapa yang benar-benar berbakti kepada ibu bapaknya,
kemuliaan adalah pakaian yang layak disandangnya.
Secara logika, boleh jadi kita tidak disebutkan oleh Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam sebagaimana Uwais telah disebutkan
dihadapan para sahabat utama sebab Rasulullah telah meninggalkan
kehidupan fana ini. Tetapi, bukan tidak mungkin Allah Ta’ala akan
mencatat siapa saja yang berbakti kepada Orangtuanya sebagai seorang
Muslim yang dibanggakan di hadapan para malaikat-Nya, Insya Allah.
Dengan demikian sungguh indah balasan atau keutamaan dari berbakti
kepada kedua Orangtua. Sayangnya, banyak manusia yang melalaikannya.
Padahal, ridha Allah Ta’ala ada pada ridha ibu dan bapak. “Keridhaan Allah seiring dengan/dalam keridhaan ibu bapak, dan kemurkaan-Nya seiring dengan/dalam kemarahan ibu bapak.” (HR. Turmudzi).
Jadi, berbaktilah kepada Orangtua dengan sebaik-baiknya. Niscaya
ridha Allah Ta’ala adalah balasan utamanya. Paling tidak, jangan pernah
sampai lupa untuk mendoakan keduanya kala kita berdoa(QS. 17:
24).Wallahua’lam.*/ Imam Nawawi, diambil dari al-Qalam
Selasa, 18 Agustus 2015
Sabtu, 15 Agustus 2015
Do’a Kesatuan Umat
Do’a Kesatuan Umat
Ya Rabb kami, tunjukkanlah kami kepada jalan yang lurus, jalan yang telah engkau syari’atkan, jalan yang telah dicontohkan oleh Nabi dan Rasul utusanMu…
(mereka berdoa): “Ya Tuhan Kami, janganlah Engkau jadikan hati Kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada Kami, dan karuniakanlah kepada Kami rahmat dari sisi Engkau; karena Sesungguhnya Engkau-lah Maha pemberi (karunia)”. (Qs. Ali Imran:8)
Jadikanlah Al-Qur’an cahaya dalam hati-hati kami, sehingga tidak ada perselisihan dalam segala urusan kami…
dan kamu tidak menyalahkan Kami, melainkan karena Kami telah beriman kepada ayat-ayat Tuhan Kami ketika ayat-ayat itu datang kepada kami”. (mereka berdoa): “Ya Tuhan Kami, Limpahkanlah kesabaran kepada Kami dan wafatkanlah Kami dalam Keadaan berserah diri (kepada-Mu)”. (Qs. Al A’raf:126)
Ya Rabb kami, ampunilah kami jikalau ayat-ayat yang telah engkau turunkan belum mampu menggetarkan hati kami…
Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal. (Qs. Al Anfal:2)
tidak ada doa mereka selain ucapan: “Ya Tuhan Kami, ampunilah dosa-dosa Kami dan tindakan-tindakan Kami yang berlebih-lebihan dalam urusan kami[235] dan tetapkanlah pendirian Kami, dan tolonglah Kami terhadap kaum yang kafir”. (Qs. Ali Imran:147)
Amin, yaa rabbal ‘alamiin…
Ya Rabb kami, tunjukkanlah kami kepada jalan yang lurus, jalan yang telah engkau syari’atkan, jalan yang telah dicontohkan oleh Nabi dan Rasul utusanMu…
(mereka berdoa): “Ya Tuhan Kami, janganlah Engkau jadikan hati Kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada Kami, dan karuniakanlah kepada Kami rahmat dari sisi Engkau; karena Sesungguhnya Engkau-lah Maha pemberi (karunia)”. (Qs. Ali Imran:8)
Jadikanlah Al-Qur’an cahaya dalam hati-hati kami, sehingga tidak ada perselisihan dalam segala urusan kami…
dan kamu tidak menyalahkan Kami, melainkan karena Kami telah beriman kepada ayat-ayat Tuhan Kami ketika ayat-ayat itu datang kepada kami”. (mereka berdoa): “Ya Tuhan Kami, Limpahkanlah kesabaran kepada Kami dan wafatkanlah Kami dalam Keadaan berserah diri (kepada-Mu)”. (Qs. Al A’raf:126)
Ya Rabb kami, ampunilah kami jikalau ayat-ayat yang telah engkau turunkan belum mampu menggetarkan hati kami…
Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal. (Qs. Al Anfal:2)
tidak ada doa mereka selain ucapan: “Ya Tuhan Kami, ampunilah dosa-dosa Kami dan tindakan-tindakan Kami yang berlebih-lebihan dalam urusan kami[235] dan tetapkanlah pendirian Kami, dan tolonglah Kami terhadap kaum yang kafir”. (Qs. Ali Imran:147)
Amin, yaa rabbal ‘alamiin…
Qiyadah Islamiyah
A. Pengertian Qiyadah
Qiyadah berasal dari kata qaada-yaqudu-qiyadatan artinya menuntun atau memimpin. Dalam literatur istilah kepemimpinan meliputi: imam, khalifah, amir, wali dan shultan. Apapun sebutannya maknanya adalah satu, yaitu yang memerintah dengan syari’at Allah dan sunnah Nabi-Nya.
Jabatan tersebut adalah merupakan pengganti nabi Muhammad SAW dengan tugas melaksanakan dan menegakkan agama serta menjalankan kepemimpinan Islam.
B. Kedudukan Qiyadah Islamiyah
Kedudukan qiyadah Islamiyah merupakan hal yang sangat vital bagi eksistensi Islam. Sebagaimana dinyatakan oleh Umar bin Khatab dalam atsarnya:
A. Kepemimpinan Tertinggi Hanya Milik Allah
Kepemimpinan tertinggi dan absolut sifatnya hanya milik Allah. Hal ini karena Allah SWT adalah pencipta alam semesta dan manusia. Sebagai pencipta, kedudukan Allah adalah pemilik sekaligus Penguasa. Ditangan-Nyalah secara mutlak segala bentuk kekuasaan kepada makhluknya. Dialah satu-satunya yang memiliki kekuasaan mutlak baik kekuasaan untuk memerintah membuat dan menetapkan hukum.
Allah pemilik otoritas tertinggi dalam kekuasaan dan hukum atas bumi ini, telah mengamanahkan kepada manusia untuk bertindak sebagai khalifahnya. Oleh karena itu kedudukan kekuasaan manusia di muka bumi adalah berupa amanah dari Allah SWT, sebagai pemegang amanah maka secara mutlak manusia terikat dengan aturan dan bertanggung jawab kepada Allah.
B. Para Manusia terpilih
Allah memberikan amanah kepada orang-orang terpilih untuk bertindak sebagai manadataris-Nya. Para Nabi dan Rasul yang mendapat kepercayaan untuk mengemban amanah itu adalah orang-orang yang telah teruji dengan berbagai cobaan, sehingga mereka mendapat kedudukan sebagai al-Mustafa.
Firman Allah SWT:
C. Estafeta misi Risalah
Muhammad Rasulullah saw adalah khataman Nabi. Setelah nabi Muhammad saw tidak ada lagi pengangkatan Nabi dan Rasul. Namun begitu peran serta fungsi kepemimpinan risalahnya tidak boleh berhenti tetapi mesti berlanjut dan berkesinambungan terus hingga akhir zaman. Di sinilah esensi dan hakikat qiyadah Islamiyah kedudukannya dalam menjaga dien dan politik negara, menempati posisi “maqom nubuwah”.
A. Penyelamat Manusia Dari Lembah Kesesatan
Status manusia di muka bumi dinyatakan: “Fi dlolalim mubin”, ketika qiyadah Islamiyah belum terwujud di tengah-tengah mereka. Oleh karena itu, terwujudnya qiyadah Islamiyah merupakan suatu ni’mat dan fadhal dari sang Maha Pencipta.
Firman Allah SWT:
B. Sebagai Syahid Terhadap Perihidup Manusia
Qiyadah Islamiyah adalah sebagai “Syahid”, penyaksi terhadap manusia akan keimanan dan kekufurannya. Dan juga di hari berbangkit diberi peran sebagai “Syahid”.
C. Sebagai Lembaga Tazkiyah
Qiyadah Islamiyah adalah sebagai lembaga tazkiyah dan tarbiyatul ummat, sehingga dengan demikian ummat dapat melakukan tazkiyatun nafs ketika melakukan pelanggaran sesuai dengan tuntunan syari’a Allah.
D. Sebagai Pelaksana Hukum
Qiyadah Islamiyah adalah satu-satunya lembaga kepemimpinan yang memiliki legitimasi dan otoritas untuk melaksanakan hukum serta bertanggung jawab terhadap tegaknya syari’at Allah. Semua manusia harus tunduk kepadanya, jika tidak maka statusnya bukanlah sebagai orang yang beriman.
E. Sebagai Lembaga Legitimasi amaliyah
Qiyadah Islamiyah adalah lembaga yang memberikan legitimasi sahnya setiap aktifitas manusia dalam kerangka hubungan “hablum minallah dan hablum minan-nas” untuk bernilai ibadah di sisi Allah.
Firman Allah SWT:
F. Sebagai Lembaga Jihad
Qiyadah Islamiyah sebagai lembaga jihad fi Sabilillah untuk melumpuhkan musuh-musuh Allah dan musuh orang-orang mukmin, sehingga dienul hak (Islam) memegang supremasi kepemimpinan di muka bumi.
Firman Allah SWT:
[Dari berbagai sumber]
Qiyadah berasal dari kata qaada-yaqudu-qiyadatan artinya menuntun atau memimpin. Dalam literatur istilah kepemimpinan meliputi: imam, khalifah, amir, wali dan shultan. Apapun sebutannya maknanya adalah satu, yaitu yang memerintah dengan syari’at Allah dan sunnah Nabi-Nya.
Jabatan tersebut adalah merupakan pengganti nabi Muhammad SAW dengan tugas melaksanakan dan menegakkan agama serta menjalankan kepemimpinan Islam.
B. Kedudukan Qiyadah Islamiyah
Kedudukan qiyadah Islamiyah merupakan hal yang sangat vital bagi eksistensi Islam. Sebagaimana dinyatakan oleh Umar bin Khatab dalam atsarnya:
لاَاِسْلاَمَ اِلاَّ بِالْجَمَاعَةِ وَلاَ جَمَاعَةَ اِلاَّ بِاْلإِمَارَةِ وَلاَ إِمَارَةَ اِلاَّ بِالطَاعَةِ
“Tidak ada Islam kecuali dengan berjama’ah, dan tidak ada jama’ah kecuali dengan adanya kepemimpinan, dan tidak ada kepemimpinan kecuali adanya keta’atan”.
HUBUNGAN QIYADAH ISLAMIYAH DENGAN DIMENSI THEOLOGIS
A. Kepemimpinan Tertinggi Hanya Milik Allah
Kepemimpinan tertinggi dan absolut sifatnya hanya milik Allah. Hal ini karena Allah SWT adalah pencipta alam semesta dan manusia. Sebagai pencipta, kedudukan Allah adalah pemilik sekaligus Penguasa. Ditangan-Nyalah secara mutlak segala bentuk kekuasaan kepada makhluknya. Dialah satu-satunya yang memiliki kekuasaan mutlak baik kekuasaan untuk memerintah membuat dan menetapkan hukum.
تَبَارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ الْمُلْكُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
Maha Suci Allah Yang di tangan-Nyalah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu, (67:1)
إِنِ الْحُكْمُ إِلَّا لِلَّهِ أَمَرَ أَلَّا تَعْبُدُوا
إِلَّا إِيَّاهُ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ
لَا يَعْلَمُونَ
Keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan
agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi
kebanyakan manusia tidak mengetahui. (12:40)
أَلاَ لَهُ الْخَلْقُ وَاْلأَمْرُ تَبَارَكَ اللهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ
“Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam. (7:57) Allah pemilik otoritas tertinggi dalam kekuasaan dan hukum atas bumi ini, telah mengamanahkan kepada manusia untuk bertindak sebagai khalifahnya. Oleh karena itu kedudukan kekuasaan manusia di muka bumi adalah berupa amanah dari Allah SWT, sebagai pemegang amanah maka secara mutlak manusia terikat dengan aturan dan bertanggung jawab kepada Allah.
وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً
Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat:
“Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”.
(2:30)B. Para Manusia terpilih
Allah memberikan amanah kepada orang-orang terpilih untuk bertindak sebagai manadataris-Nya. Para Nabi dan Rasul yang mendapat kepercayaan untuk mengemban amanah itu adalah orang-orang yang telah teruji dengan berbagai cobaan, sehingga mereka mendapat kedudukan sebagai al-Mustafa.
Firman Allah SWT:
إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَاهُ عَلَيْكُمْ وَزَادَهُ بَسْطَةً فِي الْعِلْمِ وَالْجِسْمِ
“Sesungguhnya Allah telah memilihnya menjadi rajamu dan menagnugerahkan ilmu dan tubuh yang perkasa”. (2:24t)C. Estafeta misi Risalah
Muhammad Rasulullah saw adalah khataman Nabi. Setelah nabi Muhammad saw tidak ada lagi pengangkatan Nabi dan Rasul. Namun begitu peran serta fungsi kepemimpinan risalahnya tidak boleh berhenti tetapi mesti berlanjut dan berkesinambungan terus hingga akhir zaman. Di sinilah esensi dan hakikat qiyadah Islamiyah kedudukannya dalam menjaga dien dan politik negara, menempati posisi “maqom nubuwah”.
وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ
الرُّسُلُ أَفَإِنْ مَاتَ أَوْ قُتِلَ انْقَلَبْتُمْ عَلَى أَعْقَابِكُمْ
وَمَنْ يَنْقَلِبْ عَلَى عَقِبَيْهِ فَلَنْ يَضُرَّ اللَّهَ شَيْئًا
وَسَيَجْزِي اللَّهُ الشَّاكِرِينَ
Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah
berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika dia wafat atau
dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke
belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah
sedikitpun; dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang
bersyukur. (3:144)
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ : عَنِ
النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ كَانَتْ بَنُو
إِسْرَائِيلَ تَسُوسُهُمُ الْأَنْبِيَاءُ كُلَّمَا هَلَكَ نَبِيٌّ خَلَفَهُ
نَبِيٌّ وَإِنَّهُ لَا نَبِيَّ بَعْدِي وَسَتَكُونُ خُلَفَاءُ تَكْثُرُ
قَالُوا فَمَا تَأْمُرُنَا قَالَ فُوا بِبَيْعَةِ الْأَوَّلِ فَالْأَوَّلِ
وَأَعْطُوهُمْ حَقَّهُمْ فَإِنَّ اللَّهَ سَائِلُهُمْ عَمَّا
اسْتَرْعَاهُمْ
Dari Abu Hurairah r.a: Nabi s.a.w bersabda: “Adalah
Banu Israil selalu dikendalikan pemerintahan mereka oleh Nabi-nabi.
Setiap meninggal seorang Nabi maka Nabi itu digantikan oleh nabi yang
lain. Sesungguhnya tak ada lagi Nabi sesudahku, yang ada hany para
khalifah yang banyak jumlahnya. Para sabahat bertanya: “Apakah yang engkau suruh kami kerjakan?. Nabi menjawab: “Sempurnakanlah
baiat yang telah engkau berikan kepada yang pertama. Kemudian yang
datang sesudahnya. Sesungguhnya Allah akan bertanya kepada mereka
tentang apa yang Allah suruh kepada merka”. (HR. Bukhari Muslim)
PERAN SERTA FUNGSI QIYADAH ISLAMIYAH DITINJAU DARI ASPEK SOSIO POLITIK DAN HUKUM
A. Penyelamat Manusia Dari Lembah Kesesatan
Status manusia di muka bumi dinyatakan: “Fi dlolalim mubin”, ketika qiyadah Islamiyah belum terwujud di tengah-tengah mereka. Oleh karena itu, terwujudnya qiyadah Islamiyah merupakan suatu ni’mat dan fadhal dari sang Maha Pencipta.
Firman Allah SWT:
هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولاً مِنْهُمْ
يَتْلُو عَلَيْهِمْ ءَايَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ
وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلاَلٍ مُبِينٍ
“Dialah yang telah membangkitkan seorang rasul dari
diri mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya,
mensucikan mereka, mengajarkan kepada mereka Al-Kitab dan hikmah. Dan
sesungguhnya sebelum itu, mereka sungguh-sungguh di dalam kesesatan yang
nyata”. (62:2).
لَقَدْ مَنَّ اللهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ
رَسُولاً مِنْ أَنْفُسِهِمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ ءَايَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ
وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ
لَفِي ضَلاَلٍ مُبِينٍ
“Sesungguhnya Allah telah memberikan karunianya kapada
orang-orang yang beriman tatkala dibangkitkan atas mereka seorang rasul
dari diri mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya,
mensucikan mereka, mengajarkan kepada mereka Al-Kitab dan hikmah. Dan
sesungguhnya sebelum itu, mereka sungguh-sungguh di dalam kesesatan yang
nyata”. (3:164)B. Sebagai Syahid Terhadap Perihidup Manusia
Qiyadah Islamiyah adalah sebagai “Syahid”, penyaksi terhadap manusia akan keimanan dan kekufurannya. Dan juga di hari berbangkit diberi peran sebagai “Syahid”.
إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ شَاهِدًا وَمُبَشِّرًا
وَنَذِيرًا.لِتُؤْمِنُوا بِاللهِ وَرَسُولِهِ وَتُعَزِّرُوهُ
وَتُوَقِّرُوهُ وَتُسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلاً
“Sesungguhnya Kami mengutus kamu sebagai saksi, pembawa
berita gembira dan pemberi peringatan,supaya kamu sekalian beriman
kepada Allah dan Rasul-Nya, menguatkan agama-Nya, membesarkan-Nya. dan
bertasbih kepadanya di waktu pagi dan petang”. (48:8-9).C. Sebagai Lembaga Tazkiyah
Qiyadah Islamiyah adalah sebagai lembaga tazkiyah dan tarbiyatul ummat, sehingga dengan demikian ummat dapat melakukan tazkiyatun nafs ketika melakukan pelanggaran sesuai dengan tuntunan syari’a Allah.
وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ رَسُولٍ إِلاَّ لِيُطَاعَ بِإِذْنِ
اللهِ وَلَوْ أَنَّهُمْ إِذْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ جَاءُوكَ
فَاسْتَغْفَرُوا اللهَ وَاسْتَغْفَرَ لَهُمُ الرَّسُولُ لَوَجَدُوا اللهَ
تَوَّابًا رَحِيمًا
Dan tidaklah kami memgutus seorang Rasul, kecuali untuk dita’ati
dengan seijin Allah. Dan sekiranya mereka menganiaya diri (berbuat
kesalahan) datang kepada kamu kemudian memohon ampun kepada Allah dan
rasulpun memohonkan ampun untuk mereka tentulah kamu dapati bahwasanya
Allah itu Maha Pengasih lagi Maha Penerima taubat”. (4:64).D. Sebagai Pelaksana Hukum
Qiyadah Islamiyah adalah satu-satunya lembaga kepemimpinan yang memiliki legitimasi dan otoritas untuk melaksanakan hukum serta bertanggung jawab terhadap tegaknya syari’at Allah. Semua manusia harus tunduk kepadanya, jika tidak maka statusnya bukanlah sebagai orang yang beriman.
فَلاَ وَرَبِّكَ لاَ يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا
شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لاَ يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا
قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
“Maka demi Rabbmu, sesungguhnya mereka itu tidak beriman sehingga
mereka menjadikan kamu hakim pada apa yang kamu perselisihkan, dan
kemudian mereka menerima keputusanmu dengan tanpa rasa keberatan
sedikitpun”. (4:65)E. Sebagai Lembaga Legitimasi amaliyah
Qiyadah Islamiyah adalah lembaga yang memberikan legitimasi sahnya setiap aktifitas manusia dalam kerangka hubungan “hablum minallah dan hablum minan-nas” untuk bernilai ibadah di sisi Allah.
Firman Allah SWT:
وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ رَسُولٍ إِلاَّ لِيُطَاعَ بِإِذْنِ اللهِ
“Dan tidaklah Kami mengutus seorang rasul kecuali untuk dita’ati dengan seijin Allah”. (4:64).
مَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللهَ وَمَنْ تَوَلَّى فَمَا أَرْسَلْنَاكَ عَلَيْهِمْ حَفِيظًا
“Barang siapa yang menta’ati Rasul sesungguhnya ia menta’ati Allah, dan barang siapa yang berpaling, maka Kami tidaklah mengutus kamu sebagai penjaga kepada mereka”. (4:80).F. Sebagai Lembaga Jihad
Qiyadah Islamiyah sebagai lembaga jihad fi Sabilillah untuk melumpuhkan musuh-musuh Allah dan musuh orang-orang mukmin, sehingga dienul hak (Islam) memegang supremasi kepemimpinan di muka bumi.
Firman Allah SWT:
هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ
“Dialah yang telah mengutus rasul-Nya dengan huda dan
dien yang benar (Islam) untuk dimenangkan atas dien-dien seluruhnya
walau orang musrik benci”. (9:33; 61:9).[Dari berbagai sumber]
Rabu, 29 Juli 2015
Memberi Nama
TATA CARA
PEMBERIAN NAMA ANAK
Bersamaan
waktu pelaksanaan aqiqah si bayi dicukur rambutnya, rambut yang dicukur itu
ditimbang berat rambut dikonversikan dengan emas/perak diberikan kepada
fakir-miskin sebagai shadaqah (kalau sanggup bukan wajib). Dalam penyembelihan
aqiqah dan pencukuran rambut inilah bayi tersebut diberi nama yang baik, sabda
Nabi Muhammad SAW sebagai berikut:

Sabda Nabi
SAW: Sesungguhnya diantara kewajiban orang tua terhadap anaknya mengajarinya
menulis, memberikan nama yang baik, dan menikahkannya bila telah dewasa. (H.R.
Ibnu Najar).
Berikut tata
cara pemberian nama bayi secara kronologis:
Sebelum berdoa anak tersebut dihadirkan
di tengah-tengah majelis di hadapan yang akan memberi nama. Dan yang akan
memberi nama memegang kepala anak itu lalu membaca: Ta’awudz, surat al Ikhlash,
surat al Falaq dan surat an Naas.
Mengucapkan lafadz untuk memberi nama anak
sebagai berikut:

Sammaytuka (sammaynaka) bi l-islaami
lladziy sammaaka bihi LLaahi ........ bin ... ........ Al Faatihah
Jika anak perempuan:
Sammaytuki (sammaynaki) bi l-islaami
lladziy sammaaka bihi LLaahi .......... binti ........ Al Faatihah
Semua yang hadir membaca: الْفَاتِحَة
Kemudian ditutup dengan bacaan doa
(Berdo'a).

BismiLLaahir-Rahmaanir-Rahiim. AlhamduliLLaahi Rabbil-'aalamiin hamdan yuwaafiy wayukaafiy maziidahu Yaa Rabbanaa lakal-hamdu kamaa yambaghi lijalaali wajhikal-Kariim wa'azhiimi sulthaanika. ALLaahumma shalli wasallim 'alaa sayyidinaa wamaulaanaa Muhammadin wa'alaa Aalihi wa-ashhaabihi ajma'iin. Allaahummaj'alnaa haadzal-Islaama mubaarakan lahu (laha) waj'al bithaa'atikasytighaalahu (ha) wabimaa yurdhiika 'amaalahu (ha) bithalabil 'ilmikajtihaadahu (ha) wakhtim bish-shaalihati ajaalahu (ha). Allaahumma thawwil 'umrahu fiy thaa'atika wathaa'ati rasuulika wasahhih jasadahu fiy sihhati wa'aafiyah. Wa tsabbit iimaanahu (ha) wasalaamatin wanawwir qalbahu (ha) warzuqhu (ha) rizqan halaalan thayyiban mubaarakan waasi'an wa ilal-khairi qaribhu (ha) wa'anis-sarri ab'adhu (ha) wabirahmatika Yaa arhamar-Raahimiin. Rabbanaa taqabbal minnaa innaka Antas-samii'ul-'aliim. Watub 'alainaa innaka Antat-tawwaabur-Rahiim. Rabbanaa aatinaa fid-dunya hasanatan wa fil-aakhirati hasanatan waqinnaa 'adzaaban-naar. Washalallaahu 'alaa khairi khalqihi sayyidinaa Muhammadin wa'alaa aalihi wa-ashhaabihi ajma'iin. Subhaanaka Rabbika Rabbi-'izati 'ammaa yashifuun wasalaamun 'alal-mursaliina wal-hamdulillaahi Rabbil-'aalamiin.
Rabu, 24 Juni 2015
Sesal kemudian tak berguna
PENYESALAN MANUSIA DIAKHIRAT
Kelak manusia sesudah mati akan di bangkitkan lagi Oleh Allah Swt.. Dan pada hari itu manusia akan ditimbang amal kebaikannya.. Dan diberikan Kitab amalnya masing masing.. Sedang siapa yang mendapat berat amal kebaikanya akan diberikanya kitabnya dari sebelah kanan,,dan barang siapa sedikit amal kebaikanya maka orang tersebut akan menyesal,,dan memohon supaya dikembalikan ke dunia supaya bisa berbuat amal kebaikan,,tapi nasi sudah menjadi bubur,,Allah memberi balasan apa yang telah dijanjikanNya.. Dan perhatikan ayat ayat Allah dalam Al Qur'an tentang penyesalan para manusia yang ada di Al Qur'an:
وَ يَوْمَ تَشَقَّقُ السَّمَآءُ بِاْلغَمَامِ وَ نُزّلَ اْلمَلئِكَةُ تَنْزِيْلاً)25( َاْلمُلْكُ يَوْمَئِذِ اْلحَقُّ لِلرَّحْمنِ، وَ كَانَ يَوْمًا عَلَى اْلكفِرِيْنَ عَسِيْرًا)26( وَ يَوْمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلى يَدَيْهِ يَقُوْلُ يلَيْتَنِى اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُوْلِ سَبِيْلاً)27( يوَيْلَتى لَيْتَنِيْ لَمْ اَتَّخِذْ فُلاَنًا خَلِيْلاً)28( لَقَدْ اَضَلَّنِيْ عَنِ الذّكْرِ بَعْدَ اِذْ جَآءَنِيْ، وَ كَانَ الشَّيْطَانُ لِـْلاِنْسَانِ خَذُوْلاً)29( الفرقان:25-29
Dan (ingatlah) hari (ketika) langit pecah belah mengeluarkan kabut putih dan diturunkanlah malaikat bergelombang-gelombang. (25)
Kerajaan yang haq pada hari itu adalah kepunyaan Tuhan Yang Maha Pemurah. Dan adalah (hari itu), satu hari yang penuh kesukaran bagi orang-orang kafir. (26)
Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang dhalim menggigit dua tangannya, seraya berkata, “Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul. (27)
Kecelakaan besarlah bagiku, kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si fulan itu teman akrab(ku).(28 )
Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al-Qur'an ketika Al-Qur'an itu telah datang kepadaku. Dan adalah syaithan itu tidak mau menolong manusia”. (29)[QS. Al-Furqaan : 25-29]
حَتّى اِذَا جَاءَ اَحَدَهُمُ اْلمَوْتُ قَالَ رَبّ ارْجِعُوْنِ)99( لَعَلّيْ اَعْمَلُ صَالِحًا فِيْمَا تَرَكْتُ، كَلاَّ اِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَائِلُهَا، وَ مِنْ وَّرَائِهِمْ بَرْزَخٌ اِلى يَوْمِ يُبْعَثُوْنَ)100( المؤمنون:99-100
(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata, “Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia),(99)
agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan”. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan (100)[QS. Al-Mu’minuun : 99-100]
قَالُوْا رَبَّنَا غَلَبَتْ عَلَيْنَا شِقْوَتُنَا وَ كُنَّا قَوْمًا ضَالّيْنَ)106( رَبَّنَا اَخْرِجْنَا مِنْهَا فَاِنْ عُدْنَا فَاِنَّا ظَالِمُوْنَ)107( قَالَ اخْسَئُوْا فِيْهَا وَ لاَ تُكَلّمُوْنِ)108( المؤمنون:106-108
Mereka berkata, “Ya Tuhan kami, kami telah dikuasai oleh kejahatan kami, dan adalah kami orang-orang yang sesat. (106)
Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami daripadanya (dan kembalikanlah kami ke dunia), maka jika kami kembali (juga kepada kekafiran), sesungguhnya kami adalah orang-orang yang dhalim”. (107)
Allah berfirman, “Tinggallah dengan hina di dalamnya, dan janganlah kamu berbicara dengan Aku”.(108 )[QS. Al-Mu’minuun : 106-108]
وَ لَوْ تَرى اِذْ وُقِفُوْا عَلَى النَّارِ فَقَالُوْا يلَيْتَنَا نُرَدُّ وَ لاَ نُكَذّبَ بِايتِ رَبّنَا وَ نَكُوْنَ مِنَ اْلمُؤْمِنِيْنَ)27( بَلْ بَدَا لَهُمْ مَّا كَانُوْا يُخْفُوْنَ مِنْ قَبْلُ، وَ لَوْ رُدُّوْا لَعَادُوْا لِمَا نُهُوْا عَنْهُ، وَ اِنَّهُمْ لَكذِبُوْنَ)28( وَ قَالُوْآ اِنْ هِيَ اِلاَّ حَيَاتُنَا الدُّنْيَا وَ مَا نَحْنُ بِمَبْعُوْثِيْنَ)29( الانعام : 27-29
Dan jika kamu (Muhammad) melihat ketika mereka dihadapkan ke neraka, lalu mereka berkata, “Kiranya kami dikembalikan (ke dunia) dan tidak mendustakan ayat-ayat Tuhan kami, serta menjadi orang-orang yang beriman”, (tentulah kamu melihat suatu peristiwa yang mengharukan). (27)
Tetapi (sebenarnya) telah nyata bagi mereka kejahatan yang mereka dahulu selalu menyembunyikannya. Sekiranya mereka dikembalikan ke dunia, tentulah mereka kembali kepada apa yang mereka telah dilarang mengerjakannya. Dan sesungguhnya mereka itu adalah pendusta-pendusta belaka. (28 )
Dan tentu mereka akan mengatakan (pula), “Hidup hanyalah kehidupan kita di dunia saja, dan kita sekali-kali tidak akan dibangkitkan”. (29)[QS. Al-An’aam : 27-29]
وَ لَوْ تَرى اِذْ وُقِفُوْا عَلى رَبّهِمْ، قَالَ اَلَيْسَ هذَا بِاْلحَقّ، قَالُوْا بَلى وَ رَبّنَا، قَالَ فَذُوْقُوا اْلعَذَابَ بِمَا كُنْتُمْ تَكْفُرُوْنَ)30( قَدْ خَسِرَ الَّذِيْنَ كَذَّبُوْا بِلِقَآءِ اللهِ حَتَّى اِذَا جَآءَتْهُمُ السَّاعَةُ بَغْتَةً قَالُوْا يحَسْرَتَنَا عَلى مَا فَرَّطْنَا فِيْهَا وَ هُمْ يَحْمِلُوْنَ اَوْزَارَهُمْ عَلى ظُهُوْرِهِمْ، اَلاَ سَآءَ مَا يَزِرُوْنَ)31( وَ مَا اْلحَيوةُ الدُّنْيَا اِلاَّ لَعِبٌ وَّ لَهْوٌ، وَ لَلدَّارُ اْلاخِرَةُ خَيْرٌ لّلَّذِيْنَ يَتَّقُوْنَ، اَفَلاَ تَعْقِلُوْنَ)32( الانعام:30-32
Dan seandainya kamu melihat ketika mereka dihadapkan kepada Tuhannya (tentulah kamu melihat peristiwa yang mengharukan). Berfirman Allah, “Bukankah (kebangkitan) ini benar ?”. Mereka menjawab, “Sungguh benar, demi Tuhan kami”. Allah SWT berfirman, “Karena itu rasakanlah adzab ini, disebabkan kamu mengingkari(nya)”. (30)
Sungguh telah rugilah orang-orang yang mendustakan pertemuan mereka dengan Tuhan; sehingga apabila kiamat datang kepada mereka dengan tiba-tiba, mereka berkata, “Alangkah besarnya penyesalan kami terhadap kelalaian kami tentang qiyamat itu !”, sambil mereka memikul dosa-dosa di atas punggungnya. Ingatlah, amatlah buruk apa yang mereka pikul itu. (31)
Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa. Maka tidakkah kamu memahaminya ?. (32)[QS. Al-An’aam : 30-32]
هَلْ يَنْظُرُوْنَ اِلاَّ تَأْوِيْلَه، يَوْمَ يَأْتِيْ تَأْوِيْلُه يَقُوْلُ الَّذِيْنَ نَسُوْهُ مِنْ قَبْلُ قَدْ جَآءَتْ رُسُلُ رَبّنَا بِاْلحَقّ، فَهَلْ لَّنَا مِنْ شُفَعَآءَ فَيَشْفَعُوْا لَنَا اَوْ نُرَدُّ فَنَعْمَلَ غَيْرَ الَّذِيْ كُنَّا نَعْمَلُ، قَدْ خَسِرُوْآ اَنْفُسَهُمْ وَ ضَلَّ عَنْهُمْ مَّا كَانُوْا يَفْتَرُوْنَ. الاعراف:53
Tiadalah mereka menunggu-nunggu kecuali (terlaksananya kebenaran) Al-Qur’an itu. Pada hari datangnya kebenaran pemberitaan Al-Qur’an itu, berkatalah orang-orang yang melupakannya sebelum itu, “Sesungguhnya telah datang rasul-rasul Tuhan kami membawa yang haq, maka adakah bagi kami pemberi syafaat yang akan memberi syafaat bagi kami, atau dapatkah kami dikembalikan (ke dunia) sehingga kami dapat beramal yang lain dari yang pernah kami amalkan ?”. Sungguh mereka telah merugikan diri mereka sendiri dan telah lenyaplah dari mereka tuhan-tuhan yang mereka ada-adakan”.. [QS. Al-A’raaf : 53]
وَ لَوْ تَرى اِذِ اْلمُجْرِمُوْنَ نَاكِسُوْا رُءُوْسِهِمْ عِنْدَ رَبّهِمْ، رَبَّنَا اَبْصَرْنَا وَ سَمِعْنَا فَارْجِعْنَا نَعْمَلْ صَالِحًا اِنَّا مُوْقِنُوْنَ. السجدة:12
Dan (alangkah ngerinya), jika sekiranya kamu melihat ketika orang-orang yang berdosa itu menundukkan kepalanya di hadapan Tuhannya, (mereka berkata), “Ya Tuhan kami, kami telah melihat dan mendengar, maka kembalikanlah kami (ke dunia), kami akan mengerjakan amal saleh, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang yaqin”.[QS. Sajdah : 12]
وَ هُمْ يَصْطَرِخُوْنَ فِيْهَا، رَبَّنَآ اَخْرِجْنَا نَعْمَلْ صَالِحًا غَيْرَ الَّذِيْ كُنَّا نَعْمَلُ، اَوَلَمْ نُعَمّرْكُمْ مَّا يَتَذَكَّرُ فِيْهِ مَنْ تَذَكَّرَ وَ جَآءَكُمُ النَّذِيْرُ، فَذُوْقُوْا فَمَا لِلظّلِمِيْنَ مِنْ نَّصِيْرٍ. فاطر: 37
Dan mereka berteriak di dalam neraka itu, “Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami niscaya kami akan mengerjakan amal yang shalih belainan dengan yang telah kami kerjakan”. Dan apakah Kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berpikir bagi orang yang mau berpikir, dan (apakah tidak) datang kepada kamu pemberi peringatan ? Maka rasakanlah (adzab Kami) dan tidak ada bagi orang-orang yang dhalim seorang penolongpun”. [QS. Faathir : 37]
وَ مَنْ يُّضْلِلِ اللهُ فَمَا لَه مِنْ وَّلِيّ مّنْ بَعْدِه، وَ تَرَى الظّلِمِيْنَ لَمَّا رَاَوُا اْلعَذَابَ يَقُوْلُوْنَ هَلْ اِلى مَرَدّ مّنْ سَبِيْلٍ)44( وَ تَريهُمْ يُعْرَضُوْنَ عَلَيْهَا خَاشِعِيْنَ مِنَ الذُّلّ يَنْظُرُوْنَ مِنْ طَرْفٍ خَفِيّ، وَ قَالَ الَّذِيْنَ امَنُوْآ اِنَّ اْلخَاسِرِيْنَ الَّذِيْنَ خَسِرُوْا اَنْفُسَهُمْ وَ اَهْلِيْهِمْ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ، اَلاَ اِنَّ الظّلِمِيْنَ فِيْ عَذَابٍ مُّقِيْمٍ)45( الشورى:44-45
Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka tidak ada baginya seorang pemimpin pun sesudah itu. Dan kamu akan melihat orang-orang yang dhalim ketika mereka melihat adzab berkata, “Adakah kiranya jalan untuk kembali (ke dunia) ?”.. (44)
Dan kamu akan melihat mereka dihadapkan ke neraka dalam keadaan tunduk karena (merasa) hina, mereka melihat dengan pandangan yang lesu. Dan orang-orang yang beriman berkata, “Sesungguhnya orang-orang yang merugi ialah orang-orang yang kehilangan diri mereka sendiri dan (kehilangan) keluarga mereka pada hari qiyamat. Ingatlah, sesungguhnya orang-orang yang dhalim itu berada dalam adzab yang kekal. (45)[QS. Asy-Syuuraa : 44-45]
اِنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا يُنَادَوْنَ لَمَقْتُ اللهِ اَكْبَرُ مِنْ مَّقْتِكُمْ اَنْفُسَكُمْ اِذْ تُدْعَوْنَ اِلَى اْلاِيْمَانِ فَتَكْفُرُوْنَ)10( قَالُوْا رَبَّنَا اَمَتَّنَا اثْنَتَيْنِ وَ اَحْيَيْتَنَا اثْنَتَيْنِ فَاعْتَرَفْنَا بِذُنُوْبِنَا، فَهَلْ اِلى خُرُوْجٍ مّنْ سَبِيْلٍ)11( المؤمن:10-11
Sesungguhnya orang-orang yang kafir diserukan kepada mereka (pada hari qiyamat), “Sesungguhnya kebencian Allah (kepadamu) lebih besar daripada kebencianmu kepada dirimu sendiri karena kamu diseru untuk beriman lalu kamu kafir”. (10)
Mereka menjawab, “Ya Tuhan kami, Engkau telah mematikan kami dua kali dan telah menghidupkan kami dua kali (pula), lalu kami mengakui dosa-dosa kami. Maka adakah sesuatu jalan (bagi kami) untuk keluar (dari neraka) ?”. (11)[QS. Al-Mukmin : 10-11]
اِذْ تَبَرَّاَ الَّذِيْنَ اتُّبِعُوْا مِنَ الَّذِيْنَ اتَّبَعُوْا وَ رَاَوُا اْلعَذَابَ وَ تَقَطَّعَتْ بِهِمُ اْلاَسْبَابُ)166( وَ قَالَ الَّذِيْنَ اتَّبَعُوْا لَوْ اَنَّ لَنَا كَرَّةً فَنَتَبَرَّاَ مِنْهُمْ كَمَا تَبَرَّءُوْا مِنَّا، كَذلِكَ يُرِيْهِمُ اللهُ اَعْمَالَهُمْ حَسَرَاتٍ عَلَيْهِمْ، وَ مَا هُمْ بِخَارِجِيْنَ مِنَ النَّارِ)167( البقرة:166-167
Ketika orang-orang yang diikuti itu berlepas diri dari orang-orang yang mengikutinya, dan mereka melihat siksa, dan (ketika) segala hubungan antara mereka terputus sama sekali. (166)
Dan berkatalah orang-orang yang mengikuti, “Seandainya kami dapat kembali (ke dunia), pasti kami akan berlepas diri dari mereka, sebagaimana mereka berlepas diri dari kami”. Demikianlah Allah memperlihatkan kepada mereka amal perbuatannya menjadi sesalan bagi mereka; dan sekali-kali mereka tidak akan ke luar dari api neraka. (167)[QS. Al-Baqarah : 166-167]
يَوْمَ تُقَلَّبُ وُجُوْهُهُمْ فِى النَّارِ يَقُوْلُوْنَ يلَيْتَنَا اَطَعْنَا اللهَ وَ اَطَعْنَا الرَّسُوْلاَ)66( وَ قَالُوْا رَبَّنَا اِنَّا اَطَعْنَا سَادَتَنَا وَ كُبَرَآءَنَا فَاَضَلُّوْنَا السَّبِيْلاَ)67( رَبَّنَا اتِهِمْ ضِعْفَيْنِ مِنَ اْلعَذَابِ وَ اْلعَنْهُمْ لَعْنًا كَبِيْرًا)68( الاحزاب:66-68
Pada hari ketika muka mereka dibolak-balikkan dalam neraka, mereka berkata, “Alangkah baiknya, andaikata kami thaat kepada Allah dan thaat (pula) kepada Rasul”. (66)
Dan mereka berkata, “Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah menthaati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar). (67)
Ya Tuhan kami, timpakanlah kepada mereka adzab dua kali lipat dan kutuklah mereka dengan kutukan yang besar”. (68[QS. Al-Ahzaab : 66-68]
اِنَّا اَنْذَرْنَاكُمْ عَذَابًا قَرِيْبًا يَّوْمَ يَنْظُرُ اْلمَرْءُ مَا قَدَّمَتْ يَدَاهُ وَ يَقُوْلُ اْلكَافِرُ يلَيْتَنِيْ كُنْتُ تُرَابًا. النبأ:40
Sesungguhnya Kami telah memperingatkan kepadamu (hai orang kafir) siksa yang dekat, pada hari manusia melihat apa yang telah diperbuat oleh kedua tangannya; dan orang kafir berkata, “Alangkah baiknya sekiranya aku dahulu adalah tanah”.[QS. An-Naba’ : 40]
وَ نُفِخَ فِى الصُّوْرِ فَاِذَا هُمْ مّنَ اْلاَجْدَاثِ اِلى رَبّهِمْ يَنْسِلُوْنَ)51( قَالُوْا يوَيْلَنَا مَنْ بَعَثَنَا مِنْ مَّرْقَدِنَا، هذَا مَا وَعَدَ الرَّحْمنُ وَ صَدَقَ اْلمُرْسَلُوْنَ)52( يس:51-52
Dan ditiuplah sangkakala, maka tiba-tiba mereka keluar dengan segera dari quburnya (menuju) kepada Tuhan mereka. (51)
Mereka berkata, “Aduh celakalah kami ! Siapakah yang membangkitkan kami dari tempat tidur kami (kubur) ?”. Inilah yang dijanjikan (Tuhan) Yang Maha Pemurah dan benarlah Rasul-rasul (Nya). (52)[QS. Yaasiin : 51-52]
Minggu, 21 Juni 2015
Sakinah mawaddah warahmah
Arti Sakinah, Mawaddah, wa Rahmah
Selama ini kita sering mendengar ucapan seperti “semoga menjadi keluarga
yang sakinah, mawaddah, wa rahmah” (kadang ada yang menyingkat
"SAMARA") tiap kali ada teman yang menikah. Namun, jika ditanya arti
istilah tersebut, kebanyakan orang belum tahu tentaang definisi dari
sakinah, mawaddah, wa rahmah ini. Dalam tulisan ini akan dicoba untuk
menjelaskan pengertian sakinah, mawaddah, wa rahmah.
Ketiga istilah ini dapat kita temui dalam firman Allah:
وَمِنْ آَيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا
لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ
فِي ذَلِكَ لَآَيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ
Artinya: “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan
untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan
merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa cinta dan
kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat
tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (QS. Ar Rum [30]:21)
SAKINAH
Dalam Tafsirnya Al-Alusi menyatakan sakinah adalah merasa cenderung
(muyul) kepada pasangan. Kecenderungan ini satu hal yang wajar karena
seseorang pasti akan cenderung terhadap dirinya. Padahal menurut imam
Ibnu Katsir wanita (Hawa) diciptakan dari tulang rusuk laki-laki yang
sebelah kiri. Allah SWT juga telah menegaskan bahwa laki-laki memiliki
kecenderungan pada wanita. Allah berfirman:
زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ
Artinya: “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada
apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita,“ (QS Ali ‘Imran [3]: 14)
Apabila kecenderungan ini disalurkan sesuai dengan aturan Islam maka
yang tercapai adalah ketentraman dan ketenangan. Karena makna lain dari
sakinah adalah ketenangan sebagaimana firman Allah:
هُوَ الَّذِي أَنزلَ السَّكِينَةَ فِي قُلُوبِ الْمُؤْمِنِينَ
لِيَزْدَادُوا إِيمَانًا مَعَ إِيمَانِهِمْ وَلِلَّهِ جُنُودُ السَّمَوَاتِ
وَالأرْضِ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا
Artinya: “Dia-lah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati
orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan
mereka (yang telah ada). Dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi
dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana,” (QS Al-Fath: 4)
Demikian pula firman Allah SWT:
لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ
الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَنزلَ السَّكِينَةَ
عَلَيْهِمْ وَأَثَابَهُمْ فَتْحًا قَرِيبًا
Artinya: “Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin
ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Allah
mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan
atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang
dekat (waktunya).” (QS Al-Fath:18)
Ketenangan dan ketentraman inilah yang menjadi salah satu tujuan
pernikahan. Karena pernikahan adalah sarana efektif untuk menjaga
kesucian hati dan terhindar dari perzinahan. Nabi saw bersabda:
يا معشر الشباب من استطاع الباءة فليتزوج فإنه أغض للبصر وأحصن للفرج
Artinya: “Wahai para pemuda, siapa saja di antara kalian yang telah
mampu menanggung beban, hendaklah segera menikah. Karena pernikahan
dapat menundukan pandangan dan menjaga kemaluan” (Muttafaq ’alayhi dari
jalur Abdullâh ibn Mas’ûd)
MAWADDAH DAN RAHMAH
Mengenai pengertian mawaddah menurut Imam Ibnu Katsir adalah al mahabbah
(rasa cinta) sedangkan ar rahmah adalah ar-ra’fah (kasih sayang). Dalam
tafsir al Alusi penulis mengutip pendapat Hasan, Mujahid dan Ikrimah
yang menyatakan mawaddah adalah makna kinayah dari nikah yaitu jima’
sebagai konsekuensi dari pernikahan. Sedangkan ar rahmah adalah makna
kinayah dari keturunan yaitu terlahirnya keturunan dari hasil
pernikahan. Masih dalam tafsir al Alusi ada juga yang mengatakan bahwa
mawaddah berlaku bagi orang yang masih muda sedangkan ar-rahmah bagi
orang yang sudah tua.
Implementasi dari mawaddah wa rahmah ini adalah sikap saling menjaga,
melindungi, saling membantu, memahami hak dan kewajiban masing-masing
antara lain memberikan nafkah bagi laki-laki. Sangat indah perumpamaan
yang disebutkan dalam Al Qur’an mengenai interaksi suami-istri. Allah
berfirman:
هُنَّ لِبَاسٌ لَكُمْ وَأَنْتُمْ لِبَاسٌ لَهُنَّ
Artinya: “Mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka.” (QS Al-Baqarah [2]: 187)
Pakainan adalah lambang dari kehormatan dan kemuliaan karena salah satu
fungsi pakaian adalah untuk menutup aurat. Aurat sendiri maknanya adalah
sesuatu yang memalukan. Karena memalukan maka harus ditutup. Maka
demikianlah seharusnya hubungan suami-istri. Satu sama lain harus saling
menutupi kekurangan pasangannya dan bersinergi untuk mempersembahkan
yang terbaik.
KESIMPULAN
Dari ketiga kata tadi, kita singkat saja menjadi seperti ini agar mudah diingat:
Sakinah artinya tenang, tentram
Mawaddah artinya cinta, harapan
Rahmah artinya kasih sayang. (satu kata sambung "wa" yang artinya "dan")
Sebagai penutup tulisan singkat ini. Kita harus sadar bahwa pasangan
hidup, termasuk kecenderungan/ ketenangan (as sakiinah), rasa cinta
(mawaddah) dan kasih sayang (ar rahmah) adalah sebagian dari banyak
nikmat yang Allah berikan kepada hamba-hambanya khususnnya hambanya yang
beriman. Perhatikanlah redaksi ayat pada surah ar rum diatas “Dia
menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri” dan
“dijadikan-Nya diantaramu rasa sinta dan kasih sayang” dalam ayat ini
Allah menegaskan bahwa Dirinyalah yang memberikan itu semua kepada
hamba-hambanya. Wabil khusus ar-rahmah adalah adalah bentukan (Musytaq)
dari salah satu sifat dan Asma Allah yaitu rahima. Demikian pula
ar-ra’fah yang merupakan salah salah satu asma dan sifat Allah ar-rauuf
(yang Maha kasih).
Untuk apa semua ini? Tidak lain agar manusia berfikir “Sesungguhnya pada
yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang
berfikir”. Setelah itu beiman, beramal dan bersyukur atas segala nikmat
yang Allah berikan.
Semoga dengan penjelasan ini kita lebih tahu tentang istilah yang akrab
kita dengar dalam kehidupan sehari-hari. Jadi tidak hanya sekedar
mengucapkan, tapi juga tahu maknanya jika ditanya.
Sekian. Semoga bermanfaat :)
(Dari berbagai sumber)
Sabtu, 06 Juni 2015
Pemimpin
Hakikat kepemimpinan
Al-Quran dan Hadits sebagai pedoman hidup umat Islam sudah mengatur sejak awal bagaimana seharusnya kita memilih dan menjadi seorang pemimpin.
Dda dua hal yang harus dipahami tentang hakikat kepemimpinan.
Pertama, kepemimpinan dalam pandangan Al-Quran bukan sekedar kontrak sosial antara sang pemimpin dengan masyarakatnya, tetapi merupakan ikatan perjanjian antara dia dengan Allah swt. Lihat Q. S. Al-Baqarah (2): 124, "Dan ingatlah ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat perintah dan larangan (amanat), lalu Ibrahim melaksanakannya dengan baik. Allah berfirman: Sesungguhnya Aku akan menjadikan engkau pemimpin bagi manusia. Ibrahim bertanya: Dan dari keturunanku juga (dijadikan pemimpin)? Allah swt menjawab: Janji (amanat)Ku ini tidak (berhak) diperoleh orang zalim".
Kepemimpinan adalah amanah, titipan Allah swt, bukan sesuatu yang diminta apalagi dikejar dan diperebutkan. Sebab kepemimpinan melahirkan kekuasaan dan wewenang yang gunanya semata-mata untuk memudahkan dalam menjalankan tanggung jawab melayani rakyat. Semakin tinggi kekuasaan seseorang, hendaknya semakin meningkatkan pelayanan kepada masyarakat. Bukan sebaliknya, digunakan sebagai peluang untuk memperkaya diri, bertindak zalim dan sewenang-wenang. Balasan dan upah seorang pemimpin sesungguhnya hanya dari Allah swt di akhirat kelak, bukan kekayaan dan kemewahan di dunia.
Karena itu pula, ketika sahabat Nabi SAW, Abu Dzarr, meminta suatu jabatan, Nabi saw bersabda: "Kamu lemah, dan ini adalah amanah sekaligus dapat menjadi sebab kenistaan dan penyesalan di hari kemudian (bila disia-siakan)".(H. R. Muslim). Sikap yang sama juga ditunjukkan Nabi saw ketika seseorang meminta jabatan kepada beliau, dimana orang itu berkata: "Ya Rasulullah, berilah kepada kami jabatan pada salah satu bagian yang diberikan Allah kepadamu. "Maka jawab Rasulullah saw: "Demi Allah Kami tidak mengangkat seseorang pada suatu jabatan kepada orang yang menginginkan atau ambisi pada jabatan itu".(H. R. Bukhari Muslim).
Kedua, kepemimpinan menuntut keadilan. Keadilan adalah lawan dari penganiayaan, penindasan dan pilih kasih. Keadilan harus dirasakan oleh semua pihak dan golongan. Diantara bentuknya adalah dengan mengambil keputusan yang adil antara dua pihak yang berselisih, mengurus dan melayani semua lapisan masyarakat tanpa memandang agama, etnis, budaya, dan latar belakang. Lihat Q. S. Shad (38): 22, "Wahai Daud, Kami telah menjadikan kamu khalifah di bumi, maka berilah putusan antara manusia dengan hak (adil) dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu".
Ada dua pengertian pemimpin menurut Islam yang harus dipahami.
Pertama, pemimpin berarti umara yang sering disebut juga dengan ulul amri. Lihat Q. S. An-Nisa 4): 59, "Hai orang-orang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri diantara kamu". Dalam ayat tersebut dikatakan bahwa ulil amri, umara atau penguasa adalah orang yang mendapat amanah untuk mengurus urusan orang lain. Dengan kata lain, pemimpin itu adalah orang yang mendapat amanah untuk mengurus urusan rakyat. Jika ada pemimpin yang tidak mau mengurus kepentingan rakyat, maka ia bukanlah pemimpin (yang sesungguhnya).
Kedua, pemimpin sering juga disebut khadimul ummah (pelayan umat). Menurut istilah itu, seorang pemimpin harus menempatkan diri pada posisi sebagai pelayan masyarakat, bukan minta dilayani. Dengan demikian, hakikat pemimpin sejati adalah seorang pemimpin yang sanggup dan bersedia menjalankan amanat Allah swt untuk mengurus dan melayani umat/masyarakat.
Kriteria pemimpin
Minimal ada empat kriteria yang harus dimiliki oleh seseorang sebagai syarat untuk menjadi pemimpin. Semuanya terkumpul di dalam empat sifat yang dimiliki oleh para nabi/rasul sebagai pemimpin umatnya, yaitu: (1). Shidq, yaitu kebenaran dan kesungguhan dalam bersikap, berucap dan bertindak di dalam melaksanakan tugasnya. Lawannya adalah bohong. (2). Amanah, yaitu kepercayaan yang menjadikan dia memelihara dan menjaga sebaik-baiknya apa yang diamanahkan kepadanya, baik dari orang-orang yang dipimpinnya, terlebih lagi dari Allah swt. Lawannya adalah khianat. (3) Fathonah, yaitu kecerdasan, cakap, dan handal yang melahirkan kemampuan menghadapi dan menanggulangi persoalan yang muncul. Lawannya adalah bodoh. (4). Tabligh, yaitu penyampaian secara jujur dan bertanggung jawab atas segala tindakan yang diambilnya (akuntabilitas dan transparansi). Lawannya adalah menutup-nutupi (kekurangan) dan melindungi (kesalahan).
Di dalam Al-Quran juga dijumpai beberapa ayat yang berhubungan dengan sifat-sifat pokok yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin, diantaranya terdapat dalam surat As-Sajdah (32): 24 dan Al-Anbiya (21): 73. Sifat-sifat dimaksud adalah:
(1). Kesabaran dan ketabahan. "Kami jadikan mereka pemimpin ketika mereka sabar/tabah".
Kesabaran dan ketabahan dijadikan pertimbangan dalam mengangkat seorang pemimpin. Sifat ini merupakan syarat pokok yang harus ada dalam diri seorang pemimpin. Sedangkan yang lain adalah sifat-sifat yang lahir kemudian akibat adanya sifat (kesabaran) tersebut.
(2). Mampu menunjukkan jalan kebahagiaan kepada umatnya sesuai dengan petunjuk Allah swt. Lihat Q. S. Al-Anbiya (21): 73, "Mereka memberi petunjuk dengan perintah Kami". Pemimpin dituntut tidak hanya menunjukkan tetapi mengantar rakyat ke pintu gerbang kebahagiaan. Atau dengan kata lain tidak sekedar mengucapkan dan menganjurkan, tetapi hendaknya mampu mempraktekkan pada diri pribadi kemudian mensosialisasikannya di tengah masyarakat. Pemimpin sejati harus mempunyai kepekaan yang tinggi (sense of crisis), yaitu apabila rakyat menderita dia yang pertama sekali merasakan pedihnya dan apabila rakyat sejahtera cukup dia yang terakhir sekali menikmatinya.
(3). Telah membudaya pada diri mereka kebajikan. Lihat Q. S. Al-AnbiyaÃ(21): 73, "Dan Kami wahyukan kepada mereka (pemimpin) untuk mengerjakan perbuatan-perbuatan baik dan menegakkan sholat serta menunaikan zakat". Hal ini dapat tercapai (mengantarkan umat kepada kebahagiaan) apabila kebajikan telah mendarah daging dalam diri para pemimpin yang timbul dari keyakinan ilahiyah dan akidah yang mantap tertanam di dalam dada mereka.
Wallohualambissowab.
Al-Quran dan Hadits sebagai pedoman hidup umat Islam sudah mengatur sejak awal bagaimana seharusnya kita memilih dan menjadi seorang pemimpin.
Dda dua hal yang harus dipahami tentang hakikat kepemimpinan.
Pertama, kepemimpinan dalam pandangan Al-Quran bukan sekedar kontrak sosial antara sang pemimpin dengan masyarakatnya, tetapi merupakan ikatan perjanjian antara dia dengan Allah swt. Lihat Q. S. Al-Baqarah (2): 124, "Dan ingatlah ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat perintah dan larangan (amanat), lalu Ibrahim melaksanakannya dengan baik. Allah berfirman: Sesungguhnya Aku akan menjadikan engkau pemimpin bagi manusia. Ibrahim bertanya: Dan dari keturunanku juga (dijadikan pemimpin)? Allah swt menjawab: Janji (amanat)Ku ini tidak (berhak) diperoleh orang zalim".
Kepemimpinan adalah amanah, titipan Allah swt, bukan sesuatu yang diminta apalagi dikejar dan diperebutkan. Sebab kepemimpinan melahirkan kekuasaan dan wewenang yang gunanya semata-mata untuk memudahkan dalam menjalankan tanggung jawab melayani rakyat. Semakin tinggi kekuasaan seseorang, hendaknya semakin meningkatkan pelayanan kepada masyarakat. Bukan sebaliknya, digunakan sebagai peluang untuk memperkaya diri, bertindak zalim dan sewenang-wenang. Balasan dan upah seorang pemimpin sesungguhnya hanya dari Allah swt di akhirat kelak, bukan kekayaan dan kemewahan di dunia.
Karena itu pula, ketika sahabat Nabi SAW, Abu Dzarr, meminta suatu jabatan, Nabi saw bersabda: "Kamu lemah, dan ini adalah amanah sekaligus dapat menjadi sebab kenistaan dan penyesalan di hari kemudian (bila disia-siakan)".(H. R. Muslim). Sikap yang sama juga ditunjukkan Nabi saw ketika seseorang meminta jabatan kepada beliau, dimana orang itu berkata: "Ya Rasulullah, berilah kepada kami jabatan pada salah satu bagian yang diberikan Allah kepadamu. "Maka jawab Rasulullah saw: "Demi Allah Kami tidak mengangkat seseorang pada suatu jabatan kepada orang yang menginginkan atau ambisi pada jabatan itu".(H. R. Bukhari Muslim).
Kedua, kepemimpinan menuntut keadilan. Keadilan adalah lawan dari penganiayaan, penindasan dan pilih kasih. Keadilan harus dirasakan oleh semua pihak dan golongan. Diantara bentuknya adalah dengan mengambil keputusan yang adil antara dua pihak yang berselisih, mengurus dan melayani semua lapisan masyarakat tanpa memandang agama, etnis, budaya, dan latar belakang. Lihat Q. S. Shad (38): 22, "Wahai Daud, Kami telah menjadikan kamu khalifah di bumi, maka berilah putusan antara manusia dengan hak (adil) dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu".
Ada dua pengertian pemimpin menurut Islam yang harus dipahami.
Pertama, pemimpin berarti umara yang sering disebut juga dengan ulul amri. Lihat Q. S. An-Nisa 4): 59, "Hai orang-orang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri diantara kamu". Dalam ayat tersebut dikatakan bahwa ulil amri, umara atau penguasa adalah orang yang mendapat amanah untuk mengurus urusan orang lain. Dengan kata lain, pemimpin itu adalah orang yang mendapat amanah untuk mengurus urusan rakyat. Jika ada pemimpin yang tidak mau mengurus kepentingan rakyat, maka ia bukanlah pemimpin (yang sesungguhnya).
Kedua, pemimpin sering juga disebut khadimul ummah (pelayan umat). Menurut istilah itu, seorang pemimpin harus menempatkan diri pada posisi sebagai pelayan masyarakat, bukan minta dilayani. Dengan demikian, hakikat pemimpin sejati adalah seorang pemimpin yang sanggup dan bersedia menjalankan amanat Allah swt untuk mengurus dan melayani umat/masyarakat.
Kriteria pemimpin
Minimal ada empat kriteria yang harus dimiliki oleh seseorang sebagai syarat untuk menjadi pemimpin. Semuanya terkumpul di dalam empat sifat yang dimiliki oleh para nabi/rasul sebagai pemimpin umatnya, yaitu: (1). Shidq, yaitu kebenaran dan kesungguhan dalam bersikap, berucap dan bertindak di dalam melaksanakan tugasnya. Lawannya adalah bohong. (2). Amanah, yaitu kepercayaan yang menjadikan dia memelihara dan menjaga sebaik-baiknya apa yang diamanahkan kepadanya, baik dari orang-orang yang dipimpinnya, terlebih lagi dari Allah swt. Lawannya adalah khianat. (3) Fathonah, yaitu kecerdasan, cakap, dan handal yang melahirkan kemampuan menghadapi dan menanggulangi persoalan yang muncul. Lawannya adalah bodoh. (4). Tabligh, yaitu penyampaian secara jujur dan bertanggung jawab atas segala tindakan yang diambilnya (akuntabilitas dan transparansi). Lawannya adalah menutup-nutupi (kekurangan) dan melindungi (kesalahan).
Di dalam Al-Quran juga dijumpai beberapa ayat yang berhubungan dengan sifat-sifat pokok yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin, diantaranya terdapat dalam surat As-Sajdah (32): 24 dan Al-Anbiya (21): 73. Sifat-sifat dimaksud adalah:
(1). Kesabaran dan ketabahan. "Kami jadikan mereka pemimpin ketika mereka sabar/tabah".
Kesabaran dan ketabahan dijadikan pertimbangan dalam mengangkat seorang pemimpin. Sifat ini merupakan syarat pokok yang harus ada dalam diri seorang pemimpin. Sedangkan yang lain adalah sifat-sifat yang lahir kemudian akibat adanya sifat (kesabaran) tersebut.
(2). Mampu menunjukkan jalan kebahagiaan kepada umatnya sesuai dengan petunjuk Allah swt. Lihat Q. S. Al-Anbiya (21): 73, "Mereka memberi petunjuk dengan perintah Kami". Pemimpin dituntut tidak hanya menunjukkan tetapi mengantar rakyat ke pintu gerbang kebahagiaan. Atau dengan kata lain tidak sekedar mengucapkan dan menganjurkan, tetapi hendaknya mampu mempraktekkan pada diri pribadi kemudian mensosialisasikannya di tengah masyarakat. Pemimpin sejati harus mempunyai kepekaan yang tinggi (sense of crisis), yaitu apabila rakyat menderita dia yang pertama sekali merasakan pedihnya dan apabila rakyat sejahtera cukup dia yang terakhir sekali menikmatinya.
(3). Telah membudaya pada diri mereka kebajikan. Lihat Q. S. Al-AnbiyaÃ(21): 73, "Dan Kami wahyukan kepada mereka (pemimpin) untuk mengerjakan perbuatan-perbuatan baik dan menegakkan sholat serta menunaikan zakat". Hal ini dapat tercapai (mengantarkan umat kepada kebahagiaan) apabila kebajikan telah mendarah daging dalam diri para pemimpin yang timbul dari keyakinan ilahiyah dan akidah yang mantap tertanam di dalam dada mereka.
Wallohualambissowab.
Langganan:
Postingan (Atom)