Do’a Kesatuan Umat
Ya Rabb kami, tunjukkanlah kami kepada jalan yang lurus, jalan yang
telah engkau syari’atkan, jalan yang telah dicontohkan oleh Nabi dan
Rasul utusanMu…
(mereka berdoa): “Ya Tuhan Kami, janganlah Engkau jadikan hati
Kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada Kami,
dan karuniakanlah kepada Kami rahmat dari sisi Engkau; karena
Sesungguhnya Engkau-lah Maha pemberi (karunia)”. (Qs. Ali Imran:8)
Jadikanlah Al-Qur’an cahaya dalam hati-hati kami, sehingga tidak ada perselisihan dalam segala urusan kami…
dan kamu tidak menyalahkan Kami, melainkan karena Kami telah
beriman kepada ayat-ayat Tuhan Kami ketika ayat-ayat itu datang kepada
kami”. (mereka berdoa): “Ya Tuhan Kami, Limpahkanlah kesabaran kepada
Kami dan wafatkanlah Kami dalam Keadaan berserah diri (kepada-Mu)”. (Qs.
Al A’raf:126)
Ya Rabb kami, ampunilah kami jikalau ayat-ayat yang telah engkau turunkan belum mampu menggetarkan hati kami…
Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila
disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan
ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada
Tuhanlah mereka bertawakkal. (Qs. Al Anfal:2)
tidak ada doa mereka selain ucapan: “Ya Tuhan Kami, ampunilah
dosa-dosa Kami dan tindakan-tindakan Kami yang berlebih-lebihan dalam
urusan kami[235] dan tetapkanlah pendirian Kami, dan tolonglah Kami
terhadap kaum yang kafir”. (Qs. Ali Imran:147)
Amin, yaa rabbal ‘alamiin…
Sabtu, 15 Agustus 2015
Qiyadah Islamiyah
A. Pengertian Qiyadah
Qiyadah berasal dari kata qaada-yaqudu-qiyadatan artinya menuntun atau memimpin. Dalam literatur istilah kepemimpinan meliputi: imam, khalifah, amir, wali dan shultan. Apapun sebutannya maknanya adalah satu, yaitu yang memerintah dengan syari’at Allah dan sunnah Nabi-Nya.
Jabatan tersebut adalah merupakan pengganti nabi Muhammad SAW dengan tugas melaksanakan dan menegakkan agama serta menjalankan kepemimpinan Islam.
B. Kedudukan Qiyadah Islamiyah
Kedudukan qiyadah Islamiyah merupakan hal yang sangat vital bagi eksistensi Islam. Sebagaimana dinyatakan oleh Umar bin Khatab dalam atsarnya:
A. Kepemimpinan Tertinggi Hanya Milik Allah
Kepemimpinan tertinggi dan absolut sifatnya hanya milik Allah. Hal ini karena Allah SWT adalah pencipta alam semesta dan manusia. Sebagai pencipta, kedudukan Allah adalah pemilik sekaligus Penguasa. Ditangan-Nyalah secara mutlak segala bentuk kekuasaan kepada makhluknya. Dialah satu-satunya yang memiliki kekuasaan mutlak baik kekuasaan untuk memerintah membuat dan menetapkan hukum.
Allah pemilik otoritas tertinggi dalam kekuasaan dan hukum atas bumi ini, telah mengamanahkan kepada manusia untuk bertindak sebagai khalifahnya. Oleh karena itu kedudukan kekuasaan manusia di muka bumi adalah berupa amanah dari Allah SWT, sebagai pemegang amanah maka secara mutlak manusia terikat dengan aturan dan bertanggung jawab kepada Allah.
B. Para Manusia terpilih
Allah memberikan amanah kepada orang-orang terpilih untuk bertindak sebagai manadataris-Nya. Para Nabi dan Rasul yang mendapat kepercayaan untuk mengemban amanah itu adalah orang-orang yang telah teruji dengan berbagai cobaan, sehingga mereka mendapat kedudukan sebagai al-Mustafa.
Firman Allah SWT:
C. Estafeta misi Risalah
Muhammad Rasulullah saw adalah khataman Nabi. Setelah nabi Muhammad saw tidak ada lagi pengangkatan Nabi dan Rasul. Namun begitu peran serta fungsi kepemimpinan risalahnya tidak boleh berhenti tetapi mesti berlanjut dan berkesinambungan terus hingga akhir zaman. Di sinilah esensi dan hakikat qiyadah Islamiyah kedudukannya dalam menjaga dien dan politik negara, menempati posisi “maqom nubuwah”.
A. Penyelamat Manusia Dari Lembah Kesesatan
Status manusia di muka bumi dinyatakan: “Fi dlolalim mubin”, ketika qiyadah Islamiyah belum terwujud di tengah-tengah mereka. Oleh karena itu, terwujudnya qiyadah Islamiyah merupakan suatu ni’mat dan fadhal dari sang Maha Pencipta.
Firman Allah SWT:
B. Sebagai Syahid Terhadap Perihidup Manusia
Qiyadah Islamiyah adalah sebagai “Syahid”, penyaksi terhadap manusia akan keimanan dan kekufurannya. Dan juga di hari berbangkit diberi peran sebagai “Syahid”.
C. Sebagai Lembaga Tazkiyah
Qiyadah Islamiyah adalah sebagai lembaga tazkiyah dan tarbiyatul ummat, sehingga dengan demikian ummat dapat melakukan tazkiyatun nafs ketika melakukan pelanggaran sesuai dengan tuntunan syari’a Allah.
D. Sebagai Pelaksana Hukum
Qiyadah Islamiyah adalah satu-satunya lembaga kepemimpinan yang memiliki legitimasi dan otoritas untuk melaksanakan hukum serta bertanggung jawab terhadap tegaknya syari’at Allah. Semua manusia harus tunduk kepadanya, jika tidak maka statusnya bukanlah sebagai orang yang beriman.
E. Sebagai Lembaga Legitimasi amaliyah
Qiyadah Islamiyah adalah lembaga yang memberikan legitimasi sahnya setiap aktifitas manusia dalam kerangka hubungan “hablum minallah dan hablum minan-nas” untuk bernilai ibadah di sisi Allah.
Firman Allah SWT:
F. Sebagai Lembaga Jihad
Qiyadah Islamiyah sebagai lembaga jihad fi Sabilillah untuk melumpuhkan musuh-musuh Allah dan musuh orang-orang mukmin, sehingga dienul hak (Islam) memegang supremasi kepemimpinan di muka bumi.
Firman Allah SWT:
[Dari berbagai sumber]
Qiyadah berasal dari kata qaada-yaqudu-qiyadatan artinya menuntun atau memimpin. Dalam literatur istilah kepemimpinan meliputi: imam, khalifah, amir, wali dan shultan. Apapun sebutannya maknanya adalah satu, yaitu yang memerintah dengan syari’at Allah dan sunnah Nabi-Nya.
Jabatan tersebut adalah merupakan pengganti nabi Muhammad SAW dengan tugas melaksanakan dan menegakkan agama serta menjalankan kepemimpinan Islam.
B. Kedudukan Qiyadah Islamiyah
Kedudukan qiyadah Islamiyah merupakan hal yang sangat vital bagi eksistensi Islam. Sebagaimana dinyatakan oleh Umar bin Khatab dalam atsarnya:
لاَاِسْلاَمَ اِلاَّ بِالْجَمَاعَةِ وَلاَ جَمَاعَةَ اِلاَّ بِاْلإِمَارَةِ وَلاَ إِمَارَةَ اِلاَّ بِالطَاعَةِ
“Tidak ada Islam kecuali dengan berjama’ah, dan tidak ada jama’ah kecuali dengan adanya kepemimpinan, dan tidak ada kepemimpinan kecuali adanya keta’atan”.
HUBUNGAN QIYADAH ISLAMIYAH DENGAN DIMENSI THEOLOGIS
A. Kepemimpinan Tertinggi Hanya Milik Allah
Kepemimpinan tertinggi dan absolut sifatnya hanya milik Allah. Hal ini karena Allah SWT adalah pencipta alam semesta dan manusia. Sebagai pencipta, kedudukan Allah adalah pemilik sekaligus Penguasa. Ditangan-Nyalah secara mutlak segala bentuk kekuasaan kepada makhluknya. Dialah satu-satunya yang memiliki kekuasaan mutlak baik kekuasaan untuk memerintah membuat dan menetapkan hukum.
تَبَارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ الْمُلْكُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
Maha Suci Allah Yang di tangan-Nyalah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu, (67:1)
إِنِ الْحُكْمُ إِلَّا لِلَّهِ أَمَرَ أَلَّا تَعْبُدُوا
إِلَّا إِيَّاهُ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ
لَا يَعْلَمُونَ
Keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan
agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi
kebanyakan manusia tidak mengetahui. (12:40)
أَلاَ لَهُ الْخَلْقُ وَاْلأَمْرُ تَبَارَكَ اللهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ
“Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam. (7:57) Allah pemilik otoritas tertinggi dalam kekuasaan dan hukum atas bumi ini, telah mengamanahkan kepada manusia untuk bertindak sebagai khalifahnya. Oleh karena itu kedudukan kekuasaan manusia di muka bumi adalah berupa amanah dari Allah SWT, sebagai pemegang amanah maka secara mutlak manusia terikat dengan aturan dan bertanggung jawab kepada Allah.
وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً
Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat:
“Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”.
(2:30)B. Para Manusia terpilih
Allah memberikan amanah kepada orang-orang terpilih untuk bertindak sebagai manadataris-Nya. Para Nabi dan Rasul yang mendapat kepercayaan untuk mengemban amanah itu adalah orang-orang yang telah teruji dengan berbagai cobaan, sehingga mereka mendapat kedudukan sebagai al-Mustafa.
Firman Allah SWT:
إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَاهُ عَلَيْكُمْ وَزَادَهُ بَسْطَةً فِي الْعِلْمِ وَالْجِسْمِ
“Sesungguhnya Allah telah memilihnya menjadi rajamu dan menagnugerahkan ilmu dan tubuh yang perkasa”. (2:24t)C. Estafeta misi Risalah
Muhammad Rasulullah saw adalah khataman Nabi. Setelah nabi Muhammad saw tidak ada lagi pengangkatan Nabi dan Rasul. Namun begitu peran serta fungsi kepemimpinan risalahnya tidak boleh berhenti tetapi mesti berlanjut dan berkesinambungan terus hingga akhir zaman. Di sinilah esensi dan hakikat qiyadah Islamiyah kedudukannya dalam menjaga dien dan politik negara, menempati posisi “maqom nubuwah”.
وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ
الرُّسُلُ أَفَإِنْ مَاتَ أَوْ قُتِلَ انْقَلَبْتُمْ عَلَى أَعْقَابِكُمْ
وَمَنْ يَنْقَلِبْ عَلَى عَقِبَيْهِ فَلَنْ يَضُرَّ اللَّهَ شَيْئًا
وَسَيَجْزِي اللَّهُ الشَّاكِرِينَ
Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah
berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika dia wafat atau
dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke
belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah
sedikitpun; dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang
bersyukur. (3:144)
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ : عَنِ
النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ كَانَتْ بَنُو
إِسْرَائِيلَ تَسُوسُهُمُ الْأَنْبِيَاءُ كُلَّمَا هَلَكَ نَبِيٌّ خَلَفَهُ
نَبِيٌّ وَإِنَّهُ لَا نَبِيَّ بَعْدِي وَسَتَكُونُ خُلَفَاءُ تَكْثُرُ
قَالُوا فَمَا تَأْمُرُنَا قَالَ فُوا بِبَيْعَةِ الْأَوَّلِ فَالْأَوَّلِ
وَأَعْطُوهُمْ حَقَّهُمْ فَإِنَّ اللَّهَ سَائِلُهُمْ عَمَّا
اسْتَرْعَاهُمْ
Dari Abu Hurairah r.a: Nabi s.a.w bersabda: “Adalah
Banu Israil selalu dikendalikan pemerintahan mereka oleh Nabi-nabi.
Setiap meninggal seorang Nabi maka Nabi itu digantikan oleh nabi yang
lain. Sesungguhnya tak ada lagi Nabi sesudahku, yang ada hany para
khalifah yang banyak jumlahnya. Para sabahat bertanya: “Apakah yang engkau suruh kami kerjakan?. Nabi menjawab: “Sempurnakanlah
baiat yang telah engkau berikan kepada yang pertama. Kemudian yang
datang sesudahnya. Sesungguhnya Allah akan bertanya kepada mereka
tentang apa yang Allah suruh kepada merka”. (HR. Bukhari Muslim)
PERAN SERTA FUNGSI QIYADAH ISLAMIYAH DITINJAU DARI ASPEK SOSIO POLITIK DAN HUKUM
A. Penyelamat Manusia Dari Lembah Kesesatan
Status manusia di muka bumi dinyatakan: “Fi dlolalim mubin”, ketika qiyadah Islamiyah belum terwujud di tengah-tengah mereka. Oleh karena itu, terwujudnya qiyadah Islamiyah merupakan suatu ni’mat dan fadhal dari sang Maha Pencipta.
Firman Allah SWT:
هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولاً مِنْهُمْ
يَتْلُو عَلَيْهِمْ ءَايَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ
وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلاَلٍ مُبِينٍ
“Dialah yang telah membangkitkan seorang rasul dari
diri mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya,
mensucikan mereka, mengajarkan kepada mereka Al-Kitab dan hikmah. Dan
sesungguhnya sebelum itu, mereka sungguh-sungguh di dalam kesesatan yang
nyata”. (62:2).
لَقَدْ مَنَّ اللهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ
رَسُولاً مِنْ أَنْفُسِهِمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ ءَايَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ
وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ
لَفِي ضَلاَلٍ مُبِينٍ
“Sesungguhnya Allah telah memberikan karunianya kapada
orang-orang yang beriman tatkala dibangkitkan atas mereka seorang rasul
dari diri mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya,
mensucikan mereka, mengajarkan kepada mereka Al-Kitab dan hikmah. Dan
sesungguhnya sebelum itu, mereka sungguh-sungguh di dalam kesesatan yang
nyata”. (3:164)B. Sebagai Syahid Terhadap Perihidup Manusia
Qiyadah Islamiyah adalah sebagai “Syahid”, penyaksi terhadap manusia akan keimanan dan kekufurannya. Dan juga di hari berbangkit diberi peran sebagai “Syahid”.
إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ شَاهِدًا وَمُبَشِّرًا
وَنَذِيرًا.لِتُؤْمِنُوا بِاللهِ وَرَسُولِهِ وَتُعَزِّرُوهُ
وَتُوَقِّرُوهُ وَتُسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلاً
“Sesungguhnya Kami mengutus kamu sebagai saksi, pembawa
berita gembira dan pemberi peringatan,supaya kamu sekalian beriman
kepada Allah dan Rasul-Nya, menguatkan agama-Nya, membesarkan-Nya. dan
bertasbih kepadanya di waktu pagi dan petang”. (48:8-9).C. Sebagai Lembaga Tazkiyah
Qiyadah Islamiyah adalah sebagai lembaga tazkiyah dan tarbiyatul ummat, sehingga dengan demikian ummat dapat melakukan tazkiyatun nafs ketika melakukan pelanggaran sesuai dengan tuntunan syari’a Allah.
وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ رَسُولٍ إِلاَّ لِيُطَاعَ بِإِذْنِ
اللهِ وَلَوْ أَنَّهُمْ إِذْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ جَاءُوكَ
فَاسْتَغْفَرُوا اللهَ وَاسْتَغْفَرَ لَهُمُ الرَّسُولُ لَوَجَدُوا اللهَ
تَوَّابًا رَحِيمًا
Dan tidaklah kami memgutus seorang Rasul, kecuali untuk dita’ati
dengan seijin Allah. Dan sekiranya mereka menganiaya diri (berbuat
kesalahan) datang kepada kamu kemudian memohon ampun kepada Allah dan
rasulpun memohonkan ampun untuk mereka tentulah kamu dapati bahwasanya
Allah itu Maha Pengasih lagi Maha Penerima taubat”. (4:64).D. Sebagai Pelaksana Hukum
Qiyadah Islamiyah adalah satu-satunya lembaga kepemimpinan yang memiliki legitimasi dan otoritas untuk melaksanakan hukum serta bertanggung jawab terhadap tegaknya syari’at Allah. Semua manusia harus tunduk kepadanya, jika tidak maka statusnya bukanlah sebagai orang yang beriman.
فَلاَ وَرَبِّكَ لاَ يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا
شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لاَ يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا
قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
“Maka demi Rabbmu, sesungguhnya mereka itu tidak beriman sehingga
mereka menjadikan kamu hakim pada apa yang kamu perselisihkan, dan
kemudian mereka menerima keputusanmu dengan tanpa rasa keberatan
sedikitpun”. (4:65)E. Sebagai Lembaga Legitimasi amaliyah
Qiyadah Islamiyah adalah lembaga yang memberikan legitimasi sahnya setiap aktifitas manusia dalam kerangka hubungan “hablum minallah dan hablum minan-nas” untuk bernilai ibadah di sisi Allah.
Firman Allah SWT:
وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ رَسُولٍ إِلاَّ لِيُطَاعَ بِإِذْنِ اللهِ
“Dan tidaklah Kami mengutus seorang rasul kecuali untuk dita’ati dengan seijin Allah”. (4:64).
مَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللهَ وَمَنْ تَوَلَّى فَمَا أَرْسَلْنَاكَ عَلَيْهِمْ حَفِيظًا
“Barang siapa yang menta’ati Rasul sesungguhnya ia menta’ati Allah, dan barang siapa yang berpaling, maka Kami tidaklah mengutus kamu sebagai penjaga kepada mereka”. (4:80).F. Sebagai Lembaga Jihad
Qiyadah Islamiyah sebagai lembaga jihad fi Sabilillah untuk melumpuhkan musuh-musuh Allah dan musuh orang-orang mukmin, sehingga dienul hak (Islam) memegang supremasi kepemimpinan di muka bumi.
Firman Allah SWT:
هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ
“Dialah yang telah mengutus rasul-Nya dengan huda dan
dien yang benar (Islam) untuk dimenangkan atas dien-dien seluruhnya
walau orang musrik benci”. (9:33; 61:9).[Dari berbagai sumber]
Rabu, 29 Juli 2015
Memberi Nama
TATA CARA
PEMBERIAN NAMA ANAK
Bersamaan
waktu pelaksanaan aqiqah si bayi dicukur rambutnya, rambut yang dicukur itu
ditimbang berat rambut dikonversikan dengan emas/perak diberikan kepada
fakir-miskin sebagai shadaqah (kalau sanggup bukan wajib). Dalam penyembelihan
aqiqah dan pencukuran rambut inilah bayi tersebut diberi nama yang baik, sabda
Nabi Muhammad SAW sebagai berikut:

Sabda Nabi
SAW: Sesungguhnya diantara kewajiban orang tua terhadap anaknya mengajarinya
menulis, memberikan nama yang baik, dan menikahkannya bila telah dewasa. (H.R.
Ibnu Najar).
Berikut tata
cara pemberian nama bayi secara kronologis:
Sebelum berdoa anak tersebut dihadirkan
di tengah-tengah majelis di hadapan yang akan memberi nama. Dan yang akan
memberi nama memegang kepala anak itu lalu membaca: Ta’awudz, surat al Ikhlash,
surat al Falaq dan surat an Naas.
Mengucapkan lafadz untuk memberi nama anak
sebagai berikut:

Sammaytuka (sammaynaka) bi l-islaami
lladziy sammaaka bihi LLaahi ........ bin ... ........ Al Faatihah
Jika anak perempuan:
Sammaytuki (sammaynaki) bi l-islaami
lladziy sammaaka bihi LLaahi .......... binti ........ Al Faatihah
Semua yang hadir membaca: الْفَاتِحَة
Kemudian ditutup dengan bacaan doa
(Berdo'a).

BismiLLaahir-Rahmaanir-Rahiim. AlhamduliLLaahi Rabbil-'aalamiin hamdan yuwaafiy wayukaafiy maziidahu Yaa Rabbanaa lakal-hamdu kamaa yambaghi lijalaali wajhikal-Kariim wa'azhiimi sulthaanika. ALLaahumma shalli wasallim 'alaa sayyidinaa wamaulaanaa Muhammadin wa'alaa Aalihi wa-ashhaabihi ajma'iin. Allaahummaj'alnaa haadzal-Islaama mubaarakan lahu (laha) waj'al bithaa'atikasytighaalahu (ha) wabimaa yurdhiika 'amaalahu (ha) bithalabil 'ilmikajtihaadahu (ha) wakhtim bish-shaalihati ajaalahu (ha). Allaahumma thawwil 'umrahu fiy thaa'atika wathaa'ati rasuulika wasahhih jasadahu fiy sihhati wa'aafiyah. Wa tsabbit iimaanahu (ha) wasalaamatin wanawwir qalbahu (ha) warzuqhu (ha) rizqan halaalan thayyiban mubaarakan waasi'an wa ilal-khairi qaribhu (ha) wa'anis-sarri ab'adhu (ha) wabirahmatika Yaa arhamar-Raahimiin. Rabbanaa taqabbal minnaa innaka Antas-samii'ul-'aliim. Watub 'alainaa innaka Antat-tawwaabur-Rahiim. Rabbanaa aatinaa fid-dunya hasanatan wa fil-aakhirati hasanatan waqinnaa 'adzaaban-naar. Washalallaahu 'alaa khairi khalqihi sayyidinaa Muhammadin wa'alaa aalihi wa-ashhaabihi ajma'iin. Subhaanaka Rabbika Rabbi-'izati 'ammaa yashifuun wasalaamun 'alal-mursaliina wal-hamdulillaahi Rabbil-'aalamiin.
Rabu, 24 Juni 2015
Sesal kemudian tak berguna
PENYESALAN MANUSIA DIAKHIRAT
Kelak manusia sesudah mati akan di bangkitkan lagi Oleh Allah Swt.. Dan pada hari itu manusia akan ditimbang amal kebaikannya.. Dan diberikan Kitab amalnya masing masing.. Sedang siapa yang mendapat berat amal kebaikanya akan diberikanya kitabnya dari sebelah kanan,,dan barang siapa sedikit amal kebaikanya maka orang tersebut akan menyesal,,dan memohon supaya dikembalikan ke dunia supaya bisa berbuat amal kebaikan,,tapi nasi sudah menjadi bubur,,Allah memberi balasan apa yang telah dijanjikanNya.. Dan perhatikan ayat ayat Allah dalam Al Qur'an tentang penyesalan para manusia yang ada di Al Qur'an:
وَ يَوْمَ تَشَقَّقُ السَّمَآءُ بِاْلغَمَامِ وَ نُزّلَ اْلمَلئِكَةُ تَنْزِيْلاً)25( َاْلمُلْكُ يَوْمَئِذِ اْلحَقُّ لِلرَّحْمنِ، وَ كَانَ يَوْمًا عَلَى اْلكفِرِيْنَ عَسِيْرًا)26( وَ يَوْمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلى يَدَيْهِ يَقُوْلُ يلَيْتَنِى اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُوْلِ سَبِيْلاً)27( يوَيْلَتى لَيْتَنِيْ لَمْ اَتَّخِذْ فُلاَنًا خَلِيْلاً)28( لَقَدْ اَضَلَّنِيْ عَنِ الذّكْرِ بَعْدَ اِذْ جَآءَنِيْ، وَ كَانَ الشَّيْطَانُ لِـْلاِنْسَانِ خَذُوْلاً)29( الفرقان:25-29
Dan (ingatlah) hari (ketika) langit pecah belah mengeluarkan kabut putih dan diturunkanlah malaikat bergelombang-gelombang. (25)
Kerajaan yang haq pada hari itu adalah kepunyaan Tuhan Yang Maha Pemurah. Dan adalah (hari itu), satu hari yang penuh kesukaran bagi orang-orang kafir. (26)
Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang dhalim menggigit dua tangannya, seraya berkata, “Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul. (27)
Kecelakaan besarlah bagiku, kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si fulan itu teman akrab(ku).(28 )
Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al-Qur'an ketika Al-Qur'an itu telah datang kepadaku. Dan adalah syaithan itu tidak mau menolong manusia”. (29)[QS. Al-Furqaan : 25-29]
حَتّى اِذَا جَاءَ اَحَدَهُمُ اْلمَوْتُ قَالَ رَبّ ارْجِعُوْنِ)99( لَعَلّيْ اَعْمَلُ صَالِحًا فِيْمَا تَرَكْتُ، كَلاَّ اِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَائِلُهَا، وَ مِنْ وَّرَائِهِمْ بَرْزَخٌ اِلى يَوْمِ يُبْعَثُوْنَ)100( المؤمنون:99-100
(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata, “Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia),(99)
agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan”. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan (100)[QS. Al-Mu’minuun : 99-100]
قَالُوْا رَبَّنَا غَلَبَتْ عَلَيْنَا شِقْوَتُنَا وَ كُنَّا قَوْمًا ضَالّيْنَ)106( رَبَّنَا اَخْرِجْنَا مِنْهَا فَاِنْ عُدْنَا فَاِنَّا ظَالِمُوْنَ)107( قَالَ اخْسَئُوْا فِيْهَا وَ لاَ تُكَلّمُوْنِ)108( المؤمنون:106-108
Mereka berkata, “Ya Tuhan kami, kami telah dikuasai oleh kejahatan kami, dan adalah kami orang-orang yang sesat. (106)
Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami daripadanya (dan kembalikanlah kami ke dunia), maka jika kami kembali (juga kepada kekafiran), sesungguhnya kami adalah orang-orang yang dhalim”. (107)
Allah berfirman, “Tinggallah dengan hina di dalamnya, dan janganlah kamu berbicara dengan Aku”.(108 )[QS. Al-Mu’minuun : 106-108]
وَ لَوْ تَرى اِذْ وُقِفُوْا عَلَى النَّارِ فَقَالُوْا يلَيْتَنَا نُرَدُّ وَ لاَ نُكَذّبَ بِايتِ رَبّنَا وَ نَكُوْنَ مِنَ اْلمُؤْمِنِيْنَ)27( بَلْ بَدَا لَهُمْ مَّا كَانُوْا يُخْفُوْنَ مِنْ قَبْلُ، وَ لَوْ رُدُّوْا لَعَادُوْا لِمَا نُهُوْا عَنْهُ، وَ اِنَّهُمْ لَكذِبُوْنَ)28( وَ قَالُوْآ اِنْ هِيَ اِلاَّ حَيَاتُنَا الدُّنْيَا وَ مَا نَحْنُ بِمَبْعُوْثِيْنَ)29( الانعام : 27-29
Dan jika kamu (Muhammad) melihat ketika mereka dihadapkan ke neraka, lalu mereka berkata, “Kiranya kami dikembalikan (ke dunia) dan tidak mendustakan ayat-ayat Tuhan kami, serta menjadi orang-orang yang beriman”, (tentulah kamu melihat suatu peristiwa yang mengharukan). (27)
Tetapi (sebenarnya) telah nyata bagi mereka kejahatan yang mereka dahulu selalu menyembunyikannya. Sekiranya mereka dikembalikan ke dunia, tentulah mereka kembali kepada apa yang mereka telah dilarang mengerjakannya. Dan sesungguhnya mereka itu adalah pendusta-pendusta belaka. (28 )
Dan tentu mereka akan mengatakan (pula), “Hidup hanyalah kehidupan kita di dunia saja, dan kita sekali-kali tidak akan dibangkitkan”. (29)[QS. Al-An’aam : 27-29]
وَ لَوْ تَرى اِذْ وُقِفُوْا عَلى رَبّهِمْ، قَالَ اَلَيْسَ هذَا بِاْلحَقّ، قَالُوْا بَلى وَ رَبّنَا، قَالَ فَذُوْقُوا اْلعَذَابَ بِمَا كُنْتُمْ تَكْفُرُوْنَ)30( قَدْ خَسِرَ الَّذِيْنَ كَذَّبُوْا بِلِقَآءِ اللهِ حَتَّى اِذَا جَآءَتْهُمُ السَّاعَةُ بَغْتَةً قَالُوْا يحَسْرَتَنَا عَلى مَا فَرَّطْنَا فِيْهَا وَ هُمْ يَحْمِلُوْنَ اَوْزَارَهُمْ عَلى ظُهُوْرِهِمْ، اَلاَ سَآءَ مَا يَزِرُوْنَ)31( وَ مَا اْلحَيوةُ الدُّنْيَا اِلاَّ لَعِبٌ وَّ لَهْوٌ، وَ لَلدَّارُ اْلاخِرَةُ خَيْرٌ لّلَّذِيْنَ يَتَّقُوْنَ، اَفَلاَ تَعْقِلُوْنَ)32( الانعام:30-32
Dan seandainya kamu melihat ketika mereka dihadapkan kepada Tuhannya (tentulah kamu melihat peristiwa yang mengharukan). Berfirman Allah, “Bukankah (kebangkitan) ini benar ?”. Mereka menjawab, “Sungguh benar, demi Tuhan kami”. Allah SWT berfirman, “Karena itu rasakanlah adzab ini, disebabkan kamu mengingkari(nya)”. (30)
Sungguh telah rugilah orang-orang yang mendustakan pertemuan mereka dengan Tuhan; sehingga apabila kiamat datang kepada mereka dengan tiba-tiba, mereka berkata, “Alangkah besarnya penyesalan kami terhadap kelalaian kami tentang qiyamat itu !”, sambil mereka memikul dosa-dosa di atas punggungnya. Ingatlah, amatlah buruk apa yang mereka pikul itu. (31)
Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa. Maka tidakkah kamu memahaminya ?. (32)[QS. Al-An’aam : 30-32]
هَلْ يَنْظُرُوْنَ اِلاَّ تَأْوِيْلَه، يَوْمَ يَأْتِيْ تَأْوِيْلُه يَقُوْلُ الَّذِيْنَ نَسُوْهُ مِنْ قَبْلُ قَدْ جَآءَتْ رُسُلُ رَبّنَا بِاْلحَقّ، فَهَلْ لَّنَا مِنْ شُفَعَآءَ فَيَشْفَعُوْا لَنَا اَوْ نُرَدُّ فَنَعْمَلَ غَيْرَ الَّذِيْ كُنَّا نَعْمَلُ، قَدْ خَسِرُوْآ اَنْفُسَهُمْ وَ ضَلَّ عَنْهُمْ مَّا كَانُوْا يَفْتَرُوْنَ. الاعراف:53
Tiadalah mereka menunggu-nunggu kecuali (terlaksananya kebenaran) Al-Qur’an itu. Pada hari datangnya kebenaran pemberitaan Al-Qur’an itu, berkatalah orang-orang yang melupakannya sebelum itu, “Sesungguhnya telah datang rasul-rasul Tuhan kami membawa yang haq, maka adakah bagi kami pemberi syafaat yang akan memberi syafaat bagi kami, atau dapatkah kami dikembalikan (ke dunia) sehingga kami dapat beramal yang lain dari yang pernah kami amalkan ?”. Sungguh mereka telah merugikan diri mereka sendiri dan telah lenyaplah dari mereka tuhan-tuhan yang mereka ada-adakan”.. [QS. Al-A’raaf : 53]
وَ لَوْ تَرى اِذِ اْلمُجْرِمُوْنَ نَاكِسُوْا رُءُوْسِهِمْ عِنْدَ رَبّهِمْ، رَبَّنَا اَبْصَرْنَا وَ سَمِعْنَا فَارْجِعْنَا نَعْمَلْ صَالِحًا اِنَّا مُوْقِنُوْنَ. السجدة:12
Dan (alangkah ngerinya), jika sekiranya kamu melihat ketika orang-orang yang berdosa itu menundukkan kepalanya di hadapan Tuhannya, (mereka berkata), “Ya Tuhan kami, kami telah melihat dan mendengar, maka kembalikanlah kami (ke dunia), kami akan mengerjakan amal saleh, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang yaqin”.[QS. Sajdah : 12]
وَ هُمْ يَصْطَرِخُوْنَ فِيْهَا، رَبَّنَآ اَخْرِجْنَا نَعْمَلْ صَالِحًا غَيْرَ الَّذِيْ كُنَّا نَعْمَلُ، اَوَلَمْ نُعَمّرْكُمْ مَّا يَتَذَكَّرُ فِيْهِ مَنْ تَذَكَّرَ وَ جَآءَكُمُ النَّذِيْرُ، فَذُوْقُوْا فَمَا لِلظّلِمِيْنَ مِنْ نَّصِيْرٍ. فاطر: 37
Dan mereka berteriak di dalam neraka itu, “Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami niscaya kami akan mengerjakan amal yang shalih belainan dengan yang telah kami kerjakan”. Dan apakah Kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berpikir bagi orang yang mau berpikir, dan (apakah tidak) datang kepada kamu pemberi peringatan ? Maka rasakanlah (adzab Kami) dan tidak ada bagi orang-orang yang dhalim seorang penolongpun”. [QS. Faathir : 37]
وَ مَنْ يُّضْلِلِ اللهُ فَمَا لَه مِنْ وَّلِيّ مّنْ بَعْدِه، وَ تَرَى الظّلِمِيْنَ لَمَّا رَاَوُا اْلعَذَابَ يَقُوْلُوْنَ هَلْ اِلى مَرَدّ مّنْ سَبِيْلٍ)44( وَ تَريهُمْ يُعْرَضُوْنَ عَلَيْهَا خَاشِعِيْنَ مِنَ الذُّلّ يَنْظُرُوْنَ مِنْ طَرْفٍ خَفِيّ، وَ قَالَ الَّذِيْنَ امَنُوْآ اِنَّ اْلخَاسِرِيْنَ الَّذِيْنَ خَسِرُوْا اَنْفُسَهُمْ وَ اَهْلِيْهِمْ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ، اَلاَ اِنَّ الظّلِمِيْنَ فِيْ عَذَابٍ مُّقِيْمٍ)45( الشورى:44-45
Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka tidak ada baginya seorang pemimpin pun sesudah itu. Dan kamu akan melihat orang-orang yang dhalim ketika mereka melihat adzab berkata, “Adakah kiranya jalan untuk kembali (ke dunia) ?”.. (44)
Dan kamu akan melihat mereka dihadapkan ke neraka dalam keadaan tunduk karena (merasa) hina, mereka melihat dengan pandangan yang lesu. Dan orang-orang yang beriman berkata, “Sesungguhnya orang-orang yang merugi ialah orang-orang yang kehilangan diri mereka sendiri dan (kehilangan) keluarga mereka pada hari qiyamat. Ingatlah, sesungguhnya orang-orang yang dhalim itu berada dalam adzab yang kekal. (45)[QS. Asy-Syuuraa : 44-45]
اِنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا يُنَادَوْنَ لَمَقْتُ اللهِ اَكْبَرُ مِنْ مَّقْتِكُمْ اَنْفُسَكُمْ اِذْ تُدْعَوْنَ اِلَى اْلاِيْمَانِ فَتَكْفُرُوْنَ)10( قَالُوْا رَبَّنَا اَمَتَّنَا اثْنَتَيْنِ وَ اَحْيَيْتَنَا اثْنَتَيْنِ فَاعْتَرَفْنَا بِذُنُوْبِنَا، فَهَلْ اِلى خُرُوْجٍ مّنْ سَبِيْلٍ)11( المؤمن:10-11
Sesungguhnya orang-orang yang kafir diserukan kepada mereka (pada hari qiyamat), “Sesungguhnya kebencian Allah (kepadamu) lebih besar daripada kebencianmu kepada dirimu sendiri karena kamu diseru untuk beriman lalu kamu kafir”. (10)
Mereka menjawab, “Ya Tuhan kami, Engkau telah mematikan kami dua kali dan telah menghidupkan kami dua kali (pula), lalu kami mengakui dosa-dosa kami. Maka adakah sesuatu jalan (bagi kami) untuk keluar (dari neraka) ?”. (11)[QS. Al-Mukmin : 10-11]
اِذْ تَبَرَّاَ الَّذِيْنَ اتُّبِعُوْا مِنَ الَّذِيْنَ اتَّبَعُوْا وَ رَاَوُا اْلعَذَابَ وَ تَقَطَّعَتْ بِهِمُ اْلاَسْبَابُ)166( وَ قَالَ الَّذِيْنَ اتَّبَعُوْا لَوْ اَنَّ لَنَا كَرَّةً فَنَتَبَرَّاَ مِنْهُمْ كَمَا تَبَرَّءُوْا مِنَّا، كَذلِكَ يُرِيْهِمُ اللهُ اَعْمَالَهُمْ حَسَرَاتٍ عَلَيْهِمْ، وَ مَا هُمْ بِخَارِجِيْنَ مِنَ النَّارِ)167( البقرة:166-167
Ketika orang-orang yang diikuti itu berlepas diri dari orang-orang yang mengikutinya, dan mereka melihat siksa, dan (ketika) segala hubungan antara mereka terputus sama sekali. (166)
Dan berkatalah orang-orang yang mengikuti, “Seandainya kami dapat kembali (ke dunia), pasti kami akan berlepas diri dari mereka, sebagaimana mereka berlepas diri dari kami”. Demikianlah Allah memperlihatkan kepada mereka amal perbuatannya menjadi sesalan bagi mereka; dan sekali-kali mereka tidak akan ke luar dari api neraka. (167)[QS. Al-Baqarah : 166-167]
يَوْمَ تُقَلَّبُ وُجُوْهُهُمْ فِى النَّارِ يَقُوْلُوْنَ يلَيْتَنَا اَطَعْنَا اللهَ وَ اَطَعْنَا الرَّسُوْلاَ)66( وَ قَالُوْا رَبَّنَا اِنَّا اَطَعْنَا سَادَتَنَا وَ كُبَرَآءَنَا فَاَضَلُّوْنَا السَّبِيْلاَ)67( رَبَّنَا اتِهِمْ ضِعْفَيْنِ مِنَ اْلعَذَابِ وَ اْلعَنْهُمْ لَعْنًا كَبِيْرًا)68( الاحزاب:66-68
Pada hari ketika muka mereka dibolak-balikkan dalam neraka, mereka berkata, “Alangkah baiknya, andaikata kami thaat kepada Allah dan thaat (pula) kepada Rasul”. (66)
Dan mereka berkata, “Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah menthaati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar). (67)
Ya Tuhan kami, timpakanlah kepada mereka adzab dua kali lipat dan kutuklah mereka dengan kutukan yang besar”. (68[QS. Al-Ahzaab : 66-68]
اِنَّا اَنْذَرْنَاكُمْ عَذَابًا قَرِيْبًا يَّوْمَ يَنْظُرُ اْلمَرْءُ مَا قَدَّمَتْ يَدَاهُ وَ يَقُوْلُ اْلكَافِرُ يلَيْتَنِيْ كُنْتُ تُرَابًا. النبأ:40
Sesungguhnya Kami telah memperingatkan kepadamu (hai orang kafir) siksa yang dekat, pada hari manusia melihat apa yang telah diperbuat oleh kedua tangannya; dan orang kafir berkata, “Alangkah baiknya sekiranya aku dahulu adalah tanah”.[QS. An-Naba’ : 40]
وَ نُفِخَ فِى الصُّوْرِ فَاِذَا هُمْ مّنَ اْلاَجْدَاثِ اِلى رَبّهِمْ يَنْسِلُوْنَ)51( قَالُوْا يوَيْلَنَا مَنْ بَعَثَنَا مِنْ مَّرْقَدِنَا، هذَا مَا وَعَدَ الرَّحْمنُ وَ صَدَقَ اْلمُرْسَلُوْنَ)52( يس:51-52
Dan ditiuplah sangkakala, maka tiba-tiba mereka keluar dengan segera dari quburnya (menuju) kepada Tuhan mereka. (51)
Mereka berkata, “Aduh celakalah kami ! Siapakah yang membangkitkan kami dari tempat tidur kami (kubur) ?”. Inilah yang dijanjikan (Tuhan) Yang Maha Pemurah dan benarlah Rasul-rasul (Nya). (52)[QS. Yaasiin : 51-52]
Minggu, 21 Juni 2015
Sakinah mawaddah warahmah
Arti Sakinah, Mawaddah, wa Rahmah
Selama ini kita sering mendengar ucapan seperti “semoga menjadi keluarga
yang sakinah, mawaddah, wa rahmah” (kadang ada yang menyingkat
"SAMARA") tiap kali ada teman yang menikah. Namun, jika ditanya arti
istilah tersebut, kebanyakan orang belum tahu tentaang definisi dari
sakinah, mawaddah, wa rahmah ini. Dalam tulisan ini akan dicoba untuk
menjelaskan pengertian sakinah, mawaddah, wa rahmah.
Ketiga istilah ini dapat kita temui dalam firman Allah:
وَمِنْ آَيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا
لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ
فِي ذَلِكَ لَآَيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ
Artinya: “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan
untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan
merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa cinta dan
kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat
tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (QS. Ar Rum [30]:21)
SAKINAH
Dalam Tafsirnya Al-Alusi menyatakan sakinah adalah merasa cenderung
(muyul) kepada pasangan. Kecenderungan ini satu hal yang wajar karena
seseorang pasti akan cenderung terhadap dirinya. Padahal menurut imam
Ibnu Katsir wanita (Hawa) diciptakan dari tulang rusuk laki-laki yang
sebelah kiri. Allah SWT juga telah menegaskan bahwa laki-laki memiliki
kecenderungan pada wanita. Allah berfirman:
زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ
Artinya: “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada
apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita,“ (QS Ali ‘Imran [3]: 14)
Apabila kecenderungan ini disalurkan sesuai dengan aturan Islam maka
yang tercapai adalah ketentraman dan ketenangan. Karena makna lain dari
sakinah adalah ketenangan sebagaimana firman Allah:
هُوَ الَّذِي أَنزلَ السَّكِينَةَ فِي قُلُوبِ الْمُؤْمِنِينَ
لِيَزْدَادُوا إِيمَانًا مَعَ إِيمَانِهِمْ وَلِلَّهِ جُنُودُ السَّمَوَاتِ
وَالأرْضِ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا
Artinya: “Dia-lah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati
orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan
mereka (yang telah ada). Dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi
dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana,” (QS Al-Fath: 4)
Demikian pula firman Allah SWT:
لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ
الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَنزلَ السَّكِينَةَ
عَلَيْهِمْ وَأَثَابَهُمْ فَتْحًا قَرِيبًا
Artinya: “Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin
ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Allah
mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan
atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang
dekat (waktunya).” (QS Al-Fath:18)
Ketenangan dan ketentraman inilah yang menjadi salah satu tujuan
pernikahan. Karena pernikahan adalah sarana efektif untuk menjaga
kesucian hati dan terhindar dari perzinahan. Nabi saw bersabda:
يا معشر الشباب من استطاع الباءة فليتزوج فإنه أغض للبصر وأحصن للفرج
Artinya: “Wahai para pemuda, siapa saja di antara kalian yang telah
mampu menanggung beban, hendaklah segera menikah. Karena pernikahan
dapat menundukan pandangan dan menjaga kemaluan” (Muttafaq ’alayhi dari
jalur Abdullâh ibn Mas’ûd)
MAWADDAH DAN RAHMAH
Mengenai pengertian mawaddah menurut Imam Ibnu Katsir adalah al mahabbah
(rasa cinta) sedangkan ar rahmah adalah ar-ra’fah (kasih sayang). Dalam
tafsir al Alusi penulis mengutip pendapat Hasan, Mujahid dan Ikrimah
yang menyatakan mawaddah adalah makna kinayah dari nikah yaitu jima’
sebagai konsekuensi dari pernikahan. Sedangkan ar rahmah adalah makna
kinayah dari keturunan yaitu terlahirnya keturunan dari hasil
pernikahan. Masih dalam tafsir al Alusi ada juga yang mengatakan bahwa
mawaddah berlaku bagi orang yang masih muda sedangkan ar-rahmah bagi
orang yang sudah tua.
Implementasi dari mawaddah wa rahmah ini adalah sikap saling menjaga,
melindungi, saling membantu, memahami hak dan kewajiban masing-masing
antara lain memberikan nafkah bagi laki-laki. Sangat indah perumpamaan
yang disebutkan dalam Al Qur’an mengenai interaksi suami-istri. Allah
berfirman:
هُنَّ لِبَاسٌ لَكُمْ وَأَنْتُمْ لِبَاسٌ لَهُنَّ
Artinya: “Mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka.” (QS Al-Baqarah [2]: 187)
Pakainan adalah lambang dari kehormatan dan kemuliaan karena salah satu
fungsi pakaian adalah untuk menutup aurat. Aurat sendiri maknanya adalah
sesuatu yang memalukan. Karena memalukan maka harus ditutup. Maka
demikianlah seharusnya hubungan suami-istri. Satu sama lain harus saling
menutupi kekurangan pasangannya dan bersinergi untuk mempersembahkan
yang terbaik.
KESIMPULAN
Dari ketiga kata tadi, kita singkat saja menjadi seperti ini agar mudah diingat:
Sakinah artinya tenang, tentram
Mawaddah artinya cinta, harapan
Rahmah artinya kasih sayang. (satu kata sambung "wa" yang artinya "dan")
Sebagai penutup tulisan singkat ini. Kita harus sadar bahwa pasangan
hidup, termasuk kecenderungan/ ketenangan (as sakiinah), rasa cinta
(mawaddah) dan kasih sayang (ar rahmah) adalah sebagian dari banyak
nikmat yang Allah berikan kepada hamba-hambanya khususnnya hambanya yang
beriman. Perhatikanlah redaksi ayat pada surah ar rum diatas “Dia
menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri” dan
“dijadikan-Nya diantaramu rasa sinta dan kasih sayang” dalam ayat ini
Allah menegaskan bahwa Dirinyalah yang memberikan itu semua kepada
hamba-hambanya. Wabil khusus ar-rahmah adalah adalah bentukan (Musytaq)
dari salah satu sifat dan Asma Allah yaitu rahima. Demikian pula
ar-ra’fah yang merupakan salah salah satu asma dan sifat Allah ar-rauuf
(yang Maha kasih).
Untuk apa semua ini? Tidak lain agar manusia berfikir “Sesungguhnya pada
yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang
berfikir”. Setelah itu beiman, beramal dan bersyukur atas segala nikmat
yang Allah berikan.
Semoga dengan penjelasan ini kita lebih tahu tentang istilah yang akrab
kita dengar dalam kehidupan sehari-hari. Jadi tidak hanya sekedar
mengucapkan, tapi juga tahu maknanya jika ditanya.
Sekian. Semoga bermanfaat :)
(Dari berbagai sumber)
Sabtu, 06 Juni 2015
Pemimpin
Hakikat kepemimpinan
Al-Quran dan Hadits sebagai pedoman hidup umat Islam sudah mengatur sejak awal bagaimana seharusnya kita memilih dan menjadi seorang pemimpin.
Dda dua hal yang harus dipahami tentang hakikat kepemimpinan.
Pertama, kepemimpinan dalam pandangan Al-Quran bukan sekedar kontrak sosial antara sang pemimpin dengan masyarakatnya, tetapi merupakan ikatan perjanjian antara dia dengan Allah swt. Lihat Q. S. Al-Baqarah (2): 124, "Dan ingatlah ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat perintah dan larangan (amanat), lalu Ibrahim melaksanakannya dengan baik. Allah berfirman: Sesungguhnya Aku akan menjadikan engkau pemimpin bagi manusia. Ibrahim bertanya: Dan dari keturunanku juga (dijadikan pemimpin)? Allah swt menjawab: Janji (amanat)Ku ini tidak (berhak) diperoleh orang zalim".
Kepemimpinan adalah amanah, titipan Allah swt, bukan sesuatu yang diminta apalagi dikejar dan diperebutkan. Sebab kepemimpinan melahirkan kekuasaan dan wewenang yang gunanya semata-mata untuk memudahkan dalam menjalankan tanggung jawab melayani rakyat. Semakin tinggi kekuasaan seseorang, hendaknya semakin meningkatkan pelayanan kepada masyarakat. Bukan sebaliknya, digunakan sebagai peluang untuk memperkaya diri, bertindak zalim dan sewenang-wenang. Balasan dan upah seorang pemimpin sesungguhnya hanya dari Allah swt di akhirat kelak, bukan kekayaan dan kemewahan di dunia.
Karena itu pula, ketika sahabat Nabi SAW, Abu Dzarr, meminta suatu jabatan, Nabi saw bersabda: "Kamu lemah, dan ini adalah amanah sekaligus dapat menjadi sebab kenistaan dan penyesalan di hari kemudian (bila disia-siakan)".(H. R. Muslim). Sikap yang sama juga ditunjukkan Nabi saw ketika seseorang meminta jabatan kepada beliau, dimana orang itu berkata: "Ya Rasulullah, berilah kepada kami jabatan pada salah satu bagian yang diberikan Allah kepadamu. "Maka jawab Rasulullah saw: "Demi Allah Kami tidak mengangkat seseorang pada suatu jabatan kepada orang yang menginginkan atau ambisi pada jabatan itu".(H. R. Bukhari Muslim).
Kedua, kepemimpinan menuntut keadilan. Keadilan adalah lawan dari penganiayaan, penindasan dan pilih kasih. Keadilan harus dirasakan oleh semua pihak dan golongan. Diantara bentuknya adalah dengan mengambil keputusan yang adil antara dua pihak yang berselisih, mengurus dan melayani semua lapisan masyarakat tanpa memandang agama, etnis, budaya, dan latar belakang. Lihat Q. S. Shad (38): 22, "Wahai Daud, Kami telah menjadikan kamu khalifah di bumi, maka berilah putusan antara manusia dengan hak (adil) dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu".
Ada dua pengertian pemimpin menurut Islam yang harus dipahami.
Pertama, pemimpin berarti umara yang sering disebut juga dengan ulul amri. Lihat Q. S. An-Nisa 4): 59, "Hai orang-orang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri diantara kamu". Dalam ayat tersebut dikatakan bahwa ulil amri, umara atau penguasa adalah orang yang mendapat amanah untuk mengurus urusan orang lain. Dengan kata lain, pemimpin itu adalah orang yang mendapat amanah untuk mengurus urusan rakyat. Jika ada pemimpin yang tidak mau mengurus kepentingan rakyat, maka ia bukanlah pemimpin (yang sesungguhnya).
Kedua, pemimpin sering juga disebut khadimul ummah (pelayan umat). Menurut istilah itu, seorang pemimpin harus menempatkan diri pada posisi sebagai pelayan masyarakat, bukan minta dilayani. Dengan demikian, hakikat pemimpin sejati adalah seorang pemimpin yang sanggup dan bersedia menjalankan amanat Allah swt untuk mengurus dan melayani umat/masyarakat.
Kriteria pemimpin
Minimal ada empat kriteria yang harus dimiliki oleh seseorang sebagai syarat untuk menjadi pemimpin. Semuanya terkumpul di dalam empat sifat yang dimiliki oleh para nabi/rasul sebagai pemimpin umatnya, yaitu: (1). Shidq, yaitu kebenaran dan kesungguhan dalam bersikap, berucap dan bertindak di dalam melaksanakan tugasnya. Lawannya adalah bohong. (2). Amanah, yaitu kepercayaan yang menjadikan dia memelihara dan menjaga sebaik-baiknya apa yang diamanahkan kepadanya, baik dari orang-orang yang dipimpinnya, terlebih lagi dari Allah swt. Lawannya adalah khianat. (3) Fathonah, yaitu kecerdasan, cakap, dan handal yang melahirkan kemampuan menghadapi dan menanggulangi persoalan yang muncul. Lawannya adalah bodoh. (4). Tabligh, yaitu penyampaian secara jujur dan bertanggung jawab atas segala tindakan yang diambilnya (akuntabilitas dan transparansi). Lawannya adalah menutup-nutupi (kekurangan) dan melindungi (kesalahan).
Di dalam Al-Quran juga dijumpai beberapa ayat yang berhubungan dengan sifat-sifat pokok yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin, diantaranya terdapat dalam surat As-Sajdah (32): 24 dan Al-Anbiya (21): 73. Sifat-sifat dimaksud adalah:
(1). Kesabaran dan ketabahan. "Kami jadikan mereka pemimpin ketika mereka sabar/tabah".
Kesabaran dan ketabahan dijadikan pertimbangan dalam mengangkat seorang pemimpin. Sifat ini merupakan syarat pokok yang harus ada dalam diri seorang pemimpin. Sedangkan yang lain adalah sifat-sifat yang lahir kemudian akibat adanya sifat (kesabaran) tersebut.
(2). Mampu menunjukkan jalan kebahagiaan kepada umatnya sesuai dengan petunjuk Allah swt. Lihat Q. S. Al-Anbiya (21): 73, "Mereka memberi petunjuk dengan perintah Kami". Pemimpin dituntut tidak hanya menunjukkan tetapi mengantar rakyat ke pintu gerbang kebahagiaan. Atau dengan kata lain tidak sekedar mengucapkan dan menganjurkan, tetapi hendaknya mampu mempraktekkan pada diri pribadi kemudian mensosialisasikannya di tengah masyarakat. Pemimpin sejati harus mempunyai kepekaan yang tinggi (sense of crisis), yaitu apabila rakyat menderita dia yang pertama sekali merasakan pedihnya dan apabila rakyat sejahtera cukup dia yang terakhir sekali menikmatinya.
(3). Telah membudaya pada diri mereka kebajikan. Lihat Q. S. Al-AnbiyaÃ(21): 73, "Dan Kami wahyukan kepada mereka (pemimpin) untuk mengerjakan perbuatan-perbuatan baik dan menegakkan sholat serta menunaikan zakat". Hal ini dapat tercapai (mengantarkan umat kepada kebahagiaan) apabila kebajikan telah mendarah daging dalam diri para pemimpin yang timbul dari keyakinan ilahiyah dan akidah yang mantap tertanam di dalam dada mereka.
Wallohualambissowab.
Al-Quran dan Hadits sebagai pedoman hidup umat Islam sudah mengatur sejak awal bagaimana seharusnya kita memilih dan menjadi seorang pemimpin.
Dda dua hal yang harus dipahami tentang hakikat kepemimpinan.
Pertama, kepemimpinan dalam pandangan Al-Quran bukan sekedar kontrak sosial antara sang pemimpin dengan masyarakatnya, tetapi merupakan ikatan perjanjian antara dia dengan Allah swt. Lihat Q. S. Al-Baqarah (2): 124, "Dan ingatlah ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat perintah dan larangan (amanat), lalu Ibrahim melaksanakannya dengan baik. Allah berfirman: Sesungguhnya Aku akan menjadikan engkau pemimpin bagi manusia. Ibrahim bertanya: Dan dari keturunanku juga (dijadikan pemimpin)? Allah swt menjawab: Janji (amanat)Ku ini tidak (berhak) diperoleh orang zalim".
Kepemimpinan adalah amanah, titipan Allah swt, bukan sesuatu yang diminta apalagi dikejar dan diperebutkan. Sebab kepemimpinan melahirkan kekuasaan dan wewenang yang gunanya semata-mata untuk memudahkan dalam menjalankan tanggung jawab melayani rakyat. Semakin tinggi kekuasaan seseorang, hendaknya semakin meningkatkan pelayanan kepada masyarakat. Bukan sebaliknya, digunakan sebagai peluang untuk memperkaya diri, bertindak zalim dan sewenang-wenang. Balasan dan upah seorang pemimpin sesungguhnya hanya dari Allah swt di akhirat kelak, bukan kekayaan dan kemewahan di dunia.
Karena itu pula, ketika sahabat Nabi SAW, Abu Dzarr, meminta suatu jabatan, Nabi saw bersabda: "Kamu lemah, dan ini adalah amanah sekaligus dapat menjadi sebab kenistaan dan penyesalan di hari kemudian (bila disia-siakan)".(H. R. Muslim). Sikap yang sama juga ditunjukkan Nabi saw ketika seseorang meminta jabatan kepada beliau, dimana orang itu berkata: "Ya Rasulullah, berilah kepada kami jabatan pada salah satu bagian yang diberikan Allah kepadamu. "Maka jawab Rasulullah saw: "Demi Allah Kami tidak mengangkat seseorang pada suatu jabatan kepada orang yang menginginkan atau ambisi pada jabatan itu".(H. R. Bukhari Muslim).
Kedua, kepemimpinan menuntut keadilan. Keadilan adalah lawan dari penganiayaan, penindasan dan pilih kasih. Keadilan harus dirasakan oleh semua pihak dan golongan. Diantara bentuknya adalah dengan mengambil keputusan yang adil antara dua pihak yang berselisih, mengurus dan melayani semua lapisan masyarakat tanpa memandang agama, etnis, budaya, dan latar belakang. Lihat Q. S. Shad (38): 22, "Wahai Daud, Kami telah menjadikan kamu khalifah di bumi, maka berilah putusan antara manusia dengan hak (adil) dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu".
Ada dua pengertian pemimpin menurut Islam yang harus dipahami.
Pertama, pemimpin berarti umara yang sering disebut juga dengan ulul amri. Lihat Q. S. An-Nisa 4): 59, "Hai orang-orang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri diantara kamu". Dalam ayat tersebut dikatakan bahwa ulil amri, umara atau penguasa adalah orang yang mendapat amanah untuk mengurus urusan orang lain. Dengan kata lain, pemimpin itu adalah orang yang mendapat amanah untuk mengurus urusan rakyat. Jika ada pemimpin yang tidak mau mengurus kepentingan rakyat, maka ia bukanlah pemimpin (yang sesungguhnya).
Kedua, pemimpin sering juga disebut khadimul ummah (pelayan umat). Menurut istilah itu, seorang pemimpin harus menempatkan diri pada posisi sebagai pelayan masyarakat, bukan minta dilayani. Dengan demikian, hakikat pemimpin sejati adalah seorang pemimpin yang sanggup dan bersedia menjalankan amanat Allah swt untuk mengurus dan melayani umat/masyarakat.
Kriteria pemimpin
Minimal ada empat kriteria yang harus dimiliki oleh seseorang sebagai syarat untuk menjadi pemimpin. Semuanya terkumpul di dalam empat sifat yang dimiliki oleh para nabi/rasul sebagai pemimpin umatnya, yaitu: (1). Shidq, yaitu kebenaran dan kesungguhan dalam bersikap, berucap dan bertindak di dalam melaksanakan tugasnya. Lawannya adalah bohong. (2). Amanah, yaitu kepercayaan yang menjadikan dia memelihara dan menjaga sebaik-baiknya apa yang diamanahkan kepadanya, baik dari orang-orang yang dipimpinnya, terlebih lagi dari Allah swt. Lawannya adalah khianat. (3) Fathonah, yaitu kecerdasan, cakap, dan handal yang melahirkan kemampuan menghadapi dan menanggulangi persoalan yang muncul. Lawannya adalah bodoh. (4). Tabligh, yaitu penyampaian secara jujur dan bertanggung jawab atas segala tindakan yang diambilnya (akuntabilitas dan transparansi). Lawannya adalah menutup-nutupi (kekurangan) dan melindungi (kesalahan).
Di dalam Al-Quran juga dijumpai beberapa ayat yang berhubungan dengan sifat-sifat pokok yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin, diantaranya terdapat dalam surat As-Sajdah (32): 24 dan Al-Anbiya (21): 73. Sifat-sifat dimaksud adalah:
(1). Kesabaran dan ketabahan. "Kami jadikan mereka pemimpin ketika mereka sabar/tabah".
Kesabaran dan ketabahan dijadikan pertimbangan dalam mengangkat seorang pemimpin. Sifat ini merupakan syarat pokok yang harus ada dalam diri seorang pemimpin. Sedangkan yang lain adalah sifat-sifat yang lahir kemudian akibat adanya sifat (kesabaran) tersebut.
(2). Mampu menunjukkan jalan kebahagiaan kepada umatnya sesuai dengan petunjuk Allah swt. Lihat Q. S. Al-Anbiya (21): 73, "Mereka memberi petunjuk dengan perintah Kami". Pemimpin dituntut tidak hanya menunjukkan tetapi mengantar rakyat ke pintu gerbang kebahagiaan. Atau dengan kata lain tidak sekedar mengucapkan dan menganjurkan, tetapi hendaknya mampu mempraktekkan pada diri pribadi kemudian mensosialisasikannya di tengah masyarakat. Pemimpin sejati harus mempunyai kepekaan yang tinggi (sense of crisis), yaitu apabila rakyat menderita dia yang pertama sekali merasakan pedihnya dan apabila rakyat sejahtera cukup dia yang terakhir sekali menikmatinya.
(3). Telah membudaya pada diri mereka kebajikan. Lihat Q. S. Al-AnbiyaÃ(21): 73, "Dan Kami wahyukan kepada mereka (pemimpin) untuk mengerjakan perbuatan-perbuatan baik dan menegakkan sholat serta menunaikan zakat". Hal ini dapat tercapai (mengantarkan umat kepada kebahagiaan) apabila kebajikan telah mendarah daging dalam diri para pemimpin yang timbul dari keyakinan ilahiyah dan akidah yang mantap tertanam di dalam dada mereka.
Wallohualambissowab.
Senin, 04 Mei 2015
Syarat air minum sehat
Pentingnya Mengetahui Syarat Air Minum yang Layak Dikonsumsi
Air adalah komponen terbanyak di dalam tubuh manusia. Komponen air di dalam tubuh seorang bayi mencapai sekitar 80 %, orang dewasa 60 %, sedangkan orang lanjut usia memiliki komponen air sebesar 50 % di dalam tubuhnya.

Tubuh Memerlukan Asupan Air
Air sangat di perlukan oleh tubuh manusia, keperluan air pada tubuh setiap orang berbeda-beda, Tergantung dari beberapa faktor seperti usia, berat badan, tinggi badan, aktifitas dan kondisi lingkungan di mana kita berada. Air memiliki manfaat yang sangat besar bagi tubuh kita, parameter sederhana yang bisa kita lihat saat tubuh kita memerlukan asupan air adalah rasa haus, dan juga cairan urine yang kita keluarkan, semakin pekat kecoklatan urine kita maka semakin perlu tubuh kita akan asupan air.

Tubuh Memerlukan Asupan Air
Air sangat di perlukan oleh tubuh manusia, keperluan air pada tubuh setiap orang berbeda-beda, Tergantung dari beberapa faktor seperti usia, berat badan, tinggi badan, aktifitas dan kondisi lingkungan di mana kita berada. Air memiliki manfaat yang sangat besar bagi tubuh kita, parameter sederhana yang bisa kita lihat saat tubuh kita memerlukan asupan air adalah rasa haus, dan juga cairan urine yang kita keluarkan, semakin pekat kecoklatan urine kita maka semakin perlu tubuh kita akan asupan air.
Manfaat Air Bagi Tubuh Dan Manusia
Sampai saat ini masih saja ada orang yang mengabaikan air putih, padahal manfaatnya sangat besar dan kerusakan bila kekurangan air juga nyata. Air mencegah kita kehausan, mendorong metabolisme, membuat rasa kenyang lebih lama sehingga mencegah kita makan terlalu banyak, juga membuat kulit lebih halus karena ketersediaan cairan di dalam tubuh hingga mencegah hilang konsentrasi.
Selain itu, masih banyak manfaat air putih yang sering dilupakan oleh manusia. Beberapa manfaat penting air bagi tubuh menusia yang sudah di ketahui medis diantaranya adalah :
- Berpikir Lebih Baik
- Mencegah Penyakit Batu Ginjal
- Memperlancar Sistem Pencernaan
- Menjadi Awet Muda
- Mencegah Penyakit Jantung
- Mengeluarkan Racun Dalam Tubuh
- Penyeimbang Sistem Getah Bening
- Menjaga Berat Badan Tubuh
- Menjaga Mood
- Menjaga Kebersihan serta Kesehatan Gigi dan Mulut
- Mengurangi Rasa Kram dan Terkilir
- Memperlancar Buang Air Besar
- Sebagai Obat Sakit Kepala
- Mengurangi Resiko Kanker
Konsumsi Air Yang Disarankan
Manusia dewasa disarankan untuk mengkonsumsi air sebanyak 2 liter sehari, atau sekitar 8 hingga 10 gelas perhari. Air bekerja dengan ajaib dan memacu peningkatan pada kesehatan manusia. Manfaat air putih dan manfaat kesehatan memang tidak dapat dipisahkan.
Sumber Air Menentukan Kwalitas Air
Alam memberi kita sumber kehidupan terbaik, sudah sepantasnyalah kita berusaha mengelola pemberian alam ini dengan pengelolaan yang profesional dan ramah lingkungan. Kelestarian sumber air minum tergantung dari diri kita sendiri, mulailah beralih kepada sumber air yang ramah lingkungan dan tidak merusak alam. Saat ini sudah banyak teknologi filtrasi untuk menyaring air dari keran di gunakan oleh industri makanan dan minuman, namun masih sedikit sekali di gunakan di rumah tangga. Keuntungan memanfaatkan teknologi ini kita tidak perlu merusak sumber mata air pegunungan, karena kita bisa menggunakan sumber air permukaan seperti sungai yang telah di olah PDAM atau biasa kita sebut air keran maupun air sumur.
Jenis-jenis Air
Ada beberapa jenis air yang biasa dikonsumsi masyarakat, sebut saja aquades/air murni, air beroksigen RO, hingga air mineral. Air yang berasal dari sumur / PDAM yang sering kita masak masuk dalam kategori air mineral.
Aquades
Aquades merupakan air hasil destilasi / penyulingan, sama dengan air murni atau H2O. H2O hampir tidak mengandung mineral, biasanya digunakan di lab. Tubuh manusia tidak memerlukan aquades sebab air yang kita konsumsi haruslah memiliki mineral 'baik' yang dibutuhkan tubuh.
Air ber Oxygen
Air ber Oxygen memiliki struktur molekul yang tidak stabil dan tidak beraturan. Air biasa ( Air Mineral bukan RO) dan Air ber Oxygen (RO) adalah dua jenis air yang termasuk dalam kelompok AIR PENTAGONAL. Perbedaan yang mencolok ada pada kandungan Oxygen terlarutnya dan kandungan mineral. Pada pembuatan air ber oxygen, oxygen di paksa masuk kedalam air dengan tekanan dan suhu tertentu.
Air Mineral
Air mineral merupakan pelarut yang universal. Air dengan mudah menyerap atau melarutkan berbagai partikel yang ditemuinya dan dengan mudah menjadi tercemar. Saat berada di dalam tanah, air terus bertemu dan melarutkan berbagai mineral organik maupun anorganik, logam berat dan mikroorganisme.
Air Bersih Menurut Keputusan Menteri Kesehatan RI
Jika kita mengutip Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1405/menkes/sk/xi/2002 tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan Kerja Perkantoran dan industri. Ada pengertian mengenai Air Bersih, yakni air yang dipergunakan untuk keperluan sehari-hari dan kualitasnya memenuhi persyaratan kesehatan air bersih sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku dan dapat diminum apabila dimasak.
Syarat Air Minum Yang Layak Dikonsumsi Secara Fisik, Kimia, Biologi dan Radiologi
Air bersih terlebih lagi air minum harus bebas dari mikroorganisme penyebab penyakit dan bahan-bahan kimia yang bisa merugikan kesehatan tubuh. Air merupakan zat kehidupan, di mana tidak ada satu pun makhluk hidup di bumi ini yang tidak membutuhkan air.
Ada beberapa persyaratan yang perlu diketahui mengenai kualitas air tersebut baik secara fisik, kimia dan juga mikrobiologi.
1. Syarat fisik
Air mesti bersih dan tidak keruh
Tidak berwarna apapun
Tidak berasa apapun
Tidak berbau apaun
Suhu antara 10-25 C (sejuk)
Tidak meninggalkan endapan
2. Syarat kimiawi
Tidak mengandung bahan kimiawi berracun
Tidak mengandung zat-zat kimiawi yang berlebihan seperti logam berat
pH air antara 6,5 – 8,5
Tidak mengandung pestisida
3. Syarat mikrobiologi
Tidak mengandung kuman-kuman penyakit seperti disentri, tipus, kolera, dan bakteri patogen penyebab penyakit.
4. Syarat radiologi
Air minum tidak boleh mengandung bahan-bahan radioaktif ataupun aktivitas radioaktif.
Ada sebuah faktor yang sangat penting dalam menentukan kwalitas air minum, yakni kandungan TDS (Total Dissolved Solids) atau kandungan unsur mineral dalam air. Contoh unsur mineral dalam air yaitu zat kapur, besi, timah, magnesium, tembaga, sodium, klorit, dan klorin. Air minum yang mengandung mineral tinggi sangat tidak baik bagi kesehatan, sebab mineral dalam air tidak akan hilang dengan cara direbus.
Mineral yang baik bagi tubuh manusia yaitu mineral organik yang berasal dari sayur, buah, daging, telur, atau susu. Menurut standar WHO, air minum yang layak dikonsumsi memiliki kadar TDS < 100. Pembagian kategori air menurut total zat padat yang terkandung di dalamnya (TDS) adalah : > 100 ppm = bukan air minum, 20 - 100 ppm = air minum, 1 - 10 ppm = air murni/aquades dan 0 ppm = air organic. Sedangkan pemerintah menerapkan TDS < 500.
Bahaya Klorin Pada Air Minum
Orang-orang di kota besar pada umumnya menggunakan air ledeng/PDAM untuk keperluan sehari-hari. Klorin, khlorin atau chlorine adalah bahan utama yang dipakai dalam proses khlorinasi untuk menghilangkan kuman penyakit air ledeng, air bersih atau air minum yang akan kita gunakan. Proses khlorinasi ini sangat efektif untuk menghilangkan kuman penyakit, namun dibalik keefektifannya ini klorin juga bisa berbahaya bagi kesehatan kita.
Dari berbagai penelitian yang sudah dilakukan, orang yang meminum air yang mengandung klorin mempunyai kemungkinan lebih besar untuk terkena kanker kandung kemih, dubur maupun usus besar. Klorin juga sangat berbahaya bagi wanita hamil, klorin dapat menyebabkan ibu hamil melahirkan bayi cacat dengan kelainan otak atau urat saraf tulang belakang, berat bayi lahir rendah, kelahiran prematur atau bahkan bisa mengalami keguguran kandungan.
Klorin bisa masuk ketubuh kita lewat air keran, septik tank atau air pembuangan limbah rumah tangga dan air kolam renang. Cara paling utama klorin masuk ke dalam tubuh adalah melalui air yang kita minum. Cara lain klorin bisa masuk tubuh kita adalah lewat udara, saat kita mandi ”shower” air panas, uap air yang masih mengandung klorin bisa terhirup dan masuk ke dalam tubuh kita. Yang terakhir adalah lewat kulit, biasanya sangat terasa saat kita mandi di kolam renang.
Bagaimana dengan Air Mineral kemasan?
Pembuat air mineral kemasan mestinya mengikuti standar yang ditetapkan tentang batas aman penggunaan klorin. Namun sangat sulit bagi masyarakat untuk membedakannya mana yang berklorin aman mana yang tidak.
Bagaimana cara mengurangi kadar klorin dalam air?
Kandungan klorin dapat dikurangi dengan Granulated activated carbon (GAC) atau butiran karbon aktif sebagai filter air. Filter air dari arang ini efektif untuk mengurangi rasa dan bau dari air. Namun cara terbaik adalah tidak memakai klorin untuk disinfeksi air minum, dan sebagai gantinya bisa memakai cara sederhana untuk melakukan disinfeksi pada air minum.
Tanda-tanda sumber air tanah sudah tercemar
Air tanah yang sudah tercemar bisa kita kenali melalui pengamatan fisik. Beberapa di antaranya :
- Warna kekuningan akan muncul bila air tercemar chromium dan materi organik. Bila air berwarna merah kekuningan, ini menandakan adanya cemaran besi. Sementara lumpur akan memberi warna merah kecoklatan.
- Kekeruhan juga salah satu tanda bahwa air tanah telah tercemar oleh koloid. Lumpur, tanah liat dan berbagai mikroorganisme seperti plankton ataupun partikel lainnya dapat membuat air berubah menjadi keruh.
- Polutan berupa mineral bisa membuat air tanah mempunyai rasa tertentu. Bila terasa pahit, pemicunya dapat berupa besi, alumunium, mangan, sulfat ataupun kapur dalam jumlah besar. Air tanah yang rasanya seperti air sabun menunjukkan adanya cemaran alkali. Sumbernya dapat berupa natrium bikarbonat, maupun bahan pencuci yang lain misalnya detergen.
- Rasa payau menunjukkan kandungan garam yang tinggi, sering terjadi di daerah sekitar muara sungai.
- Bau yang tercium pada air tanah juga menunjukkan adanya pencemaran. Apapun baunya, ini menunjukkan bahwa air tanah tersebut tidak layak untuk dikonsumsi.
Uji Kualitas Air Sederhana.
Seperti dijelaskan dalam tanda-tanda sumber air tanah sudah tercemar, kualitas air dapat diketahui dengan memakai indra penglihatan, perasa, penciuman dan pengecap, misalnya untuk mengetahui kekeruhan, warna, suhu, bau dan rasa. Saat menguji bau dan rasa, harus berhati-hati sebab dikhawatirkan air yang kita uji mengandung aroma dan rasa berracun.
Uji fisik sederhana
Uji fisik sederhana bisa kita lakukan dengan melihat kualitas pencemaran air minum di rumah dengan melakukan langkah-langkah berikut:
1. Masukkan air minum yang biasa kita konsumsi di rumah ke dalam sebuah wadah bening atau transparan. Hati-hatilah ketika menguji bau dan rasa air minum, jangan lakukan uji bau dan rasa jika terlihat kejanggalan pada warna dan kekeruhan air.
2. Siapkan segelas air bersih layak minum dari sumber lain yang kualitasnya telah sebagai perbandingan, campur dengan air minum yang biasa kita konsumsi di rumah. Amatilah reaksi yang terjadi dari pencampuran tersebut seperti perubahan warna, kekeruhan, bau dan rasa. Jika pada pengamatan tidak menunjukkan adanya perubahan, kemungkinan derajat pencemaran pada air minum di rumah kita cukup rendah dan layak dijadikan bahan baku air minum. Tapi jika terdapat perubahan warna, kekeruhan, bau dan rasa, bisa kita simpulkan bahwa ada pencemaran pada air minum yang biasa kita konsumsi di rumah.
Uji kimia sederhana
Untuk melakukan uji kimia sederhana, bisa dilakukan dengan cara membuat larutan teh memakai air minum yang biasa kita konsumsi di rumah. Siapkan tiga buah wadah, pada wadah pertama berisi larutan air teh, pada wadah kedua berisi air minum yang kita konsumsi di rumah dan pada wadah ketiga berisi campuran air teh dan air minum. Kemudian wadah ketiga yang berisi campuran air minum dan air teh dibiarkan selama satu malam dalam keadaan terbuka.
Jika terdapat perubahan warna pada wadah ketiga yang berisi campuran air teh dan air minum yang kita konsumsi di rumah. Terdapat lendir dan lapisan minyak pada permukaan air dan warnanya lebih gelap dari air teh yang berada di wadah pertama. Maka bisa kita simpulkan air minum yang ada di rumah kurang layak di konsumsi dan tidak bisa dijadikan bahan baku air minum.
Uji biologi sederhana
Pengujian biologi sederhana bisa kita lakukan dengan memasukkan air yang biasa kita minum di rumah dalam sebuah wadah transparan atau bening yang bisa tembus cahaya. Tutup rapat wadah tersebut dan biarkan di tempat terbuka yang terkena cahaya matahari selama lima hari, setelah itu amati. Air minum tidak layak dikonsumsi bila terjadi perubahan warna dan gumpalan putih seperti lendir.
Untuk air minum yang dikonsumsi rumah tangga, walaupun sudah melakukan uji sederhana (fisika, kimia dan biologi) tetap harus dimasak atau melalui pemanasan 100° C sebelum dikonsumsi. Hal ini bertujuan untuk membunuh kuman dan bakteri yang terkandung di dalam air.
Semoga bermanfaat
Langganan:
Postingan (Atom)